CALON
“SAMPAH” LEGISLATIF
Pemilu
segera tiba. Ribuan nama sudah terdaftar sebagai calon anggota dewan dari
berbagai tingkatan. Kabupaten, kota, provinsi, hingga tingkat negara. Mereka
saat ini masih menyandang “CALEG”. Kata calon yang masih mereka pikul sedang
mereka usahakan untuk diletakan menjadi legislatif. Usaha yang mereka lakukan
beragam. Dari berkampanye, memberikan selebaran, blusukan ke daerah terpencil,
dan memasang banner atau iklan. Semua isinya tidak lain tidak bukan adalah
janji.
Banyak
pendapat itu semua hanya akal bulus para calon untuk terpilih. Wajar adanya
ketika banyak rakyat yan tidak lagi percaya. Ketika mereka berkampanye janji
manispun terurai indah, bualan palsu tertutur sempurna dan banyak hasutan yang
membuat kita rakyat jelata mampu melambung tinggi. Mereka tak lebih dari sampah
yang tercecer di jalan. Semua kata manisnya mudah terucap dan mudah dibuang.
Mereka tidak lebih dari sampah yang bertumpuk dosa. Berbondong-bondong
mendaftarkan diri dengan semua status dan gelar yang serakah.
Memang
tidak semua dari mereka adalah sampah. Tapi mereka akan menjadi sampah karena
hidup dalam lingkungan kumuh, kotor dan tak bermoral. Benar-benar terlihat nampak
seperti sampah jika sudah melanggar aturan dan korupsi. Dari jauh saja sudah
tak sedap dipandang, dari dekat ? Namanya seperti bau busuk. Sehingga
masyarakat sulit untuk percaya.
Ini
terbukti dari data yang menyebutkan pada pemilu 2009. Dari jumlah pemilih
121.588.366 juta jiwa, suara yang sah mencapai 104 .099.7885 juta jiwa dan yang
tidak sah mencapai 17.488.581 juta jiwa.
Sangat besar jumlah suara yang tidak sah atau golput. Betapa banyaknya
masyarakat yang tidak percaya akan semua sampah janji para “calon” legislatif
Dahulu
ia adalah bungkus makanan dengan segala kelebihan. Dari bungkus berlabel artis,
pengusaha, alim ulama hingga rakyat biasa. Setelah terbongkar ternyata isinya
sudah kadaluwarsa. Mereka sangat berani berorasi dengan sampah janji, mereka
sangat berani berikrar sampah dengan bualan yang tak pasti
Bukan
hanya sampah janji yang berserakan. Sampah yang mereka hasilkan dari usaha
untuk mencapai kata legislatif dan menghilangkan kata calon ikut berserakan.
Udah di cap sampah sekarang mereka nyampah. Kata yang pas untuk mencerminkan
kebusukan mereka.
Poster
yang terpampang ditembok, banner yang menempel dipohon hingga baliho besar yang
ada disudut jalan adalah “calon” bakal jadi sampah. Setelah pemilu usai,
baliho-baliho akan hanya jadi pemandangan sampah besar yang terpajang.
Poster-poster yang menempel akan hanya merusak cat-cat tembok dan tiang-tiang.
Serta banner-banner yang ada dipohon akan hanya mematikan dan merusak hijaunya
pohon.
Selama
berkampanye yang mereka pikirkan hasil dirinya terpilih atau tidak. Tanpa memikirkan
dampak hasil sampah yang mereka buat sendiri. Dalam sebuah data menyebutkan
sampah yang dihasilkan pemilu setiap kotanya meningkat hingga 5%. Kemudian
masyarakatlah yang menjadi korban kepentingan individu dari mereka yang serakah
akan jabatan.
Mereka
layaknya sampah masyarakat yang tak bermoral. Namun mereka sangat hebat, belum
menjadi wakil dari rakyat mereka sudah produktif. Yap, mereka sangat produktif
melakukan kecurangan-kecurangan dan produktif dalam hal nyampah janji dari sebuah
tulisan yang mereka pajang dan menjadi sampah.
Mau
sampai kapan anda terus menjual janji ? Berucap palsu ? Berikrar mimpi ? Dan
memberikan 1001 harapan palsu untuk rakyat biasa yang anda wakilkan ? Harap
sebatas harap, ingin seujung ingin, dan mimpi setinggi mimpi. Kami selalu
berharap, kami menginginkan dan kami kerap kali bermimpi kalian tidak hanya
mewakilkan kami, tak hanya menampung aspirasi. Tapi kalian juga turun untuk
mementingan kami, bukan mementingkan partai kalian, dan kalian tidak hanya
sebatas menampung aspirasi tapi juga memberikan apresiasi untuk kami dalam
segala hal.
Revisi
lah undang-undang untuk kepentingan kami. Bukan untuk kepentingan partai yang
bermodalkan janji. Hutang adalah hutang, janji adalah janji dan kalian
berhutang janji dengan kami.
KAMI
PERCAYA, KAMI YAKIN, SAMPAH AKAN DAPAT TERDAUR ULANG UNTUK KEBAIKAN NEGERI INI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar