Senin, 03 Maret 2014

CALON “SAMPAH” LEGISLATIF

CALON “SAMPAH” LEGISLATIF

Pemilu segera tiba. Ribuan nama sudah terdaftar sebagai calon anggota dewan dari berbagai tingkatan. Kabupaten, kota, provinsi, hingga tingkat negara. Mereka saat ini masih menyandang “CALEG”. Kata calon yang masih mereka pikul sedang mereka usahakan untuk diletakan menjadi legislatif. Usaha yang mereka lakukan beragam. Dari berkampanye, memberikan selebaran, blusukan ke daerah terpencil, dan memasang banner atau iklan. Semua isinya tidak lain tidak bukan adalah janji.

Banyak pendapat itu semua hanya akal bulus para calon untuk terpilih. Wajar adanya ketika banyak rakyat yan tidak lagi percaya. Ketika mereka berkampanye janji manispun terurai indah, bualan palsu tertutur sempurna dan banyak hasutan yang membuat kita rakyat jelata mampu melambung tinggi. Mereka tak lebih dari sampah yang tercecer di jalan. Semua kata manisnya mudah terucap dan mudah dibuang. Mereka tidak lebih dari sampah yang bertumpuk dosa. Berbondong-bondong mendaftarkan diri dengan semua status dan gelar yang serakah.

Memang tidak semua dari mereka adalah sampah. Tapi mereka akan menjadi sampah karena hidup dalam lingkungan kumuh, kotor dan tak bermoral. Benar-benar terlihat nampak seperti sampah jika sudah melanggar aturan dan korupsi. Dari jauh saja sudah tak sedap dipandang, dari dekat ? Namanya seperti bau busuk. Sehingga masyarakat sulit untuk percaya.

Ini terbukti dari data yang menyebutkan pada pemilu 2009. Dari jumlah pemilih 121.588.366 juta jiwa, suara yang sah mencapai 104 .099.7885 juta jiwa dan yang tidak sah  mencapai 17.488.581 juta jiwa. Sangat besar jumlah suara yang tidak sah atau golput. Betapa banyaknya masyarakat yang tidak percaya akan semua sampah janji para “calon” legislatif

Dahulu ia adalah bungkus makanan dengan segala kelebihan. Dari bungkus berlabel artis, pengusaha, alim ulama hingga rakyat biasa. Setelah terbongkar ternyata isinya sudah kadaluwarsa. Mereka sangat berani berorasi dengan sampah janji, mereka sangat berani berikrar sampah dengan bualan yang tak pasti

Bukan hanya sampah janji yang berserakan. Sampah yang mereka hasilkan dari usaha untuk mencapai kata legislatif dan menghilangkan kata calon ikut berserakan. Udah di cap sampah sekarang mereka nyampah. Kata yang pas untuk mencerminkan kebusukan mereka.

Poster yang terpampang ditembok, banner yang menempel dipohon hingga baliho besar yang ada disudut jalan adalah “calon” bakal jadi sampah. Setelah pemilu usai, baliho-baliho akan hanya jadi pemandangan sampah besar yang terpajang. Poster-poster yang menempel akan hanya merusak cat-cat tembok dan tiang-tiang. Serta banner-banner yang ada dipohon akan hanya mematikan dan merusak hijaunya pohon.

Selama berkampanye yang mereka pikirkan hasil dirinya terpilih atau tidak. Tanpa memikirkan dampak hasil sampah yang mereka buat sendiri. Dalam sebuah data menyebutkan sampah yang dihasilkan pemilu setiap kotanya meningkat hingga 5%. Kemudian masyarakatlah yang menjadi korban kepentingan individu dari mereka yang serakah akan jabatan.

Mereka layaknya sampah masyarakat yang tak bermoral. Namun mereka sangat hebat, belum menjadi wakil dari rakyat mereka sudah produktif. Yap, mereka sangat produktif melakukan kecurangan-kecurangan dan produktif dalam hal nyampah janji dari sebuah tulisan yang mereka pajang dan menjadi sampah.

Mau sampai kapan anda terus menjual janji ? Berucap palsu ? Berikrar mimpi ? Dan memberikan 1001 harapan palsu untuk rakyat biasa yang anda wakilkan ? Harap sebatas harap, ingin seujung ingin, dan mimpi setinggi mimpi. Kami selalu berharap, kami menginginkan dan kami kerap kali bermimpi kalian tidak hanya mewakilkan kami, tak hanya menampung aspirasi. Tapi kalian juga turun untuk mementingan kami, bukan mementingkan partai kalian, dan kalian tidak hanya sebatas menampung aspirasi tapi juga memberikan apresiasi untuk kami dalam segala hal.

Revisi lah undang-undang untuk kepentingan kami. Bukan untuk kepentingan partai yang bermodalkan janji. Hutang adalah hutang, janji adalah janji dan kalian berhutang janji dengan kami.


KAMI PERCAYA, KAMI YAKIN, SAMPAH AKAN DAPAT TERDAUR ULANG UNTUK KEBAIKAN NEGERI INI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar