KOMITMEN,
KAPITALISME DAN KESENGSARAAN
Komitmen adalah perjanjian yang
tersirat. Sebuah komitmen pasti akan terjadi ketika adanya sebuah kata
persetujuan. Namun komitmen yang hadir di era modernisasi ini 360˚ telah
melanggar tata norma dalam sebuah perjanjian. Komitmen yang sudah terjalin
mudah dilanggar orang setiap individu. Sebuah pertanyaan pun muncul. Lalu
dimana kah nilai dari sebuah komitmen ?
Banyak cinta yang menghadirkan sebuah
komitmen. Namun tidak sedikit cinta yang berakhir dengan penghancuran sebuah
komitmen yang dibuat. Sungguh tabu ketika komitmen berpapasan dengan sebuah kehidupan
manusia yang kapitalisme. Membatasi skema hak orang lain dalam melakukan
perjanjian dan komitmen yang dilakukan. Mementingkan suatu kepentingan tanpa
memikirkan seuatu kerugian yang akan dialami orang lain di masa mendatang.
Kapitalisme menjadi seperti truck
penghancur. Tidak perduli siapapun didepannya, jika keputusan yang ia pikir
adalah sebuah keuntungan maka akan dijalankan tanpa memperdulikan efek kepingannya
yang hancur. Kekuasaan dalam mengendalikan hak orang lain sangat dimiliki
kapitalisme. Merengkuh hak tanpa batass demi segala kepentingannya. Sungguh
dapat menghadirkan kesengsaraan.
Kerap kali salah satu dari pihak akan
mendapatkan efek negatifnya. Karena suatu kepentingan sehingga janji yang
tersirat ia hapuskan dan menghadirkan kesedihan. Bukan menyelesaikan malah akan
menambah problema dalam janji itu. Sungguh disayangkan ketika hati manusia yang
terasa terikat diputuskan dengan samurai tajam mengatas namakan harga diri.
Menjadi ironi kini, ketika kata komitmen yang dulunya sakral kini tinggal kata
yang terucap bebas. Kapitalisme yang hanya ada dalam dunia ekonomi kini malah
disalah artikan demi kepentingan individu. Dan yang ada hanya kesengsaraan yang
harus dirasakan secara sukarela oleh manusianya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar