CINTA DAN PERSEPSI
Kata
cinta menjadi sebuah momok bagi setiap insan. Ketika sebuah kata cinta menjadi
perdebatan dan sebuah alasan saling menyakiti. Sebuah kehidupan yang harmonis
kan menjadi suram ketika cinta yang diharapkan tidak mengikuti alur jalan
kehidupan yang di inginkan. Cinta akan hanya menjadi sebuah tulisan dalam
sebuah buku diary yang usang. Sungguh sulit untuk menyatukan sebuah kata cinta
dengan kata kebahagiaan.
Cinta
memang benar menjadi momok yang menakutkan ketika mulai banyak persepsi yang
hadir dan diperdebatkan. Ya cinta sungguh memang sangat sukar dihadirkan dalam
sifat ilmiahnya. Karena keberadaan cinta sangat tidak mungkin diketahui dan
dibuktikan dengan sebuah logika sama halnya dengan keberadaan Tuhan. Kita
berbicara soal keyakinan kawan, bukan penyatuan pemikiran yang tak selamanya
akan logis dan masuk akal.
Di
Jepang banyak orang yang mengakhiri kehidupannya karena cinta. Disitulah muncul
bahwa cinta adalah sebuah aib yang menakutkan ketika sudah mempermalukan. Di
India cinta adalah sebuah seni sehingga realita cinta yang ada disana tertuang
dalam sebuah maha karya yang luar biasa, dan dikenal cinta itu indah. Di
Indonesia, tercatat pada tahun 2009-2011 jumlah anak dibawah umur yang hamil di
luar nikah mecapai 69%. 30% dilakukan oleh anak di bawah usia 14 tahun, 28%
dilakukan oleh anak usia 15-21 tahun, dan sisanya diatas 21 tahun. Alasan yang
muncul adalah, atas dasar suka sama suka atau banyak penulis menyebutnya
sebagai sebuah cinta.
Ironi
memang ketika cinta dipersepsikan salah dibanyak kalangan dan negara. Pada
realitanya cinta itu bukan semata dua insan yang memadu kasih. Cinta itu bukan
sebuah alasan untuk mengotori wajahnya dengan kotoran hewan. Cinta itu bukan
sebuah seni yang selalu dibuat indah. Dan sesungguhnya cinta bukanlah aib yang harus
dihindari oleh manusia yang diciptakan saling mencintai.
Suatu
ketika ku pernah mendengar dongeng Siti Nurbaya dari barat Indonesia. Ku tonton
film tenggelamnya kapal van der wijk yang menceritakan kisah dari pulau
sumatera, yang semua kisahnya menceritakan tentang persepsi cinta itu bisa
dibuat dengan sebuah keterpaksaan. Lelucon macam apa menurut ku, tapi ternyata
terbukti dan terjadi kepada seorang yang sangat bangga akan kisah cintanya yang
akan datang. Pilu kudengar cerita cintanya, seperti memotong sebuah potongan
hati dengan pisau yang sangat karat. Dalam cerita Siti Nurbaya dan Tenggelamnya
kapal Van der Wijk kisah cinta mereka banyak yang kandas karena pertentangan
orang tua yang memaksakan kehendak akan sebuah cinta demi masa depan. Ku pikir
itu hanya sebuah dongeng dan film yang masih belum jelas kebenarannya. Tapi itu
benar terjadi ketika seorang Rama yang sedang gigih mengikuti sayembara
mengejar cintanya Shinta harus kandas ketika sang Raja menikahkan Shinta kepada
putera Mahkota Kerajaan tetangga.
Disinilah
persepsi harus diluruskan. Ketika kebahagiaan yang di impikan dari sebuah kata
cinta dikalahkan dengan sebuah persepsi bahwa cinta hanya sebuah kata yang
tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan. Harta memang benar menjadi
penghancur kokohnya gembok suatu ikatan yang terjadi karena cinta. Dari sinilah
kita belajar untuk memberikan sebuah persepsi baru tentang cinta.
CINTA TIDAK HANYA HARUS DIMENGERTI NAMUN
JUGA HARUS DIPAHAMI, BAHWA SEBUAH PERSEPSI CINTA AKAN TUMBANG DENGAN SEBUAH PERSEPSI
HARTA...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar