Selasa, 11 Februari 2014

CINTA DAN PERSEPSI

CINTA DAN PERSEPSI

Kata cinta menjadi sebuah momok bagi setiap insan. Ketika sebuah kata cinta menjadi perdebatan dan sebuah alasan saling menyakiti. Sebuah kehidupan yang harmonis kan menjadi suram ketika cinta yang diharapkan tidak mengikuti alur jalan kehidupan yang di inginkan. Cinta akan hanya menjadi sebuah tulisan dalam sebuah buku diary yang usang. Sungguh sulit untuk menyatukan sebuah kata cinta dengan kata kebahagiaan.

Cinta memang benar menjadi momok yang menakutkan ketika mulai banyak persepsi yang hadir dan diperdebatkan. Ya cinta sungguh memang sangat sukar dihadirkan dalam sifat ilmiahnya. Karena keberadaan cinta sangat tidak mungkin diketahui dan dibuktikan dengan sebuah logika sama halnya dengan keberadaan Tuhan. Kita berbicara soal keyakinan kawan, bukan penyatuan pemikiran yang tak selamanya akan logis dan masuk akal.

Di Jepang banyak orang yang mengakhiri kehidupannya karena cinta. Disitulah muncul bahwa cinta adalah sebuah aib yang menakutkan ketika sudah mempermalukan. Di India cinta adalah sebuah seni sehingga realita cinta yang ada disana tertuang dalam sebuah maha karya yang luar biasa, dan dikenal cinta itu indah. Di Indonesia, tercatat pada tahun 2009-2011 jumlah anak dibawah umur yang hamil di luar nikah mecapai 69%. 30% dilakukan oleh anak di bawah usia 14 tahun, 28% dilakukan oleh anak usia 15-21 tahun, dan sisanya diatas 21 tahun. Alasan yang muncul adalah, atas dasar suka sama suka atau banyak penulis menyebutnya sebagai sebuah cinta.

Ironi memang ketika cinta dipersepsikan salah dibanyak kalangan dan negara. Pada realitanya cinta itu bukan semata dua insan yang memadu kasih. Cinta itu bukan sebuah alasan untuk mengotori wajahnya dengan kotoran hewan. Cinta itu bukan sebuah seni yang selalu dibuat indah. Dan sesungguhnya cinta bukanlah aib yang harus dihindari oleh manusia yang diciptakan saling mencintai.

Suatu ketika ku pernah mendengar dongeng Siti Nurbaya dari barat Indonesia. Ku tonton film tenggelamnya kapal van der wijk yang menceritakan kisah dari pulau sumatera, yang semua kisahnya menceritakan tentang persepsi cinta itu bisa dibuat dengan sebuah keterpaksaan. Lelucon macam apa menurut ku, tapi ternyata terbukti dan terjadi kepada seorang yang sangat bangga akan kisah cintanya yang akan datang. Pilu kudengar cerita cintanya, seperti memotong sebuah potongan hati dengan pisau yang sangat karat. Dalam cerita Siti Nurbaya dan Tenggelamnya kapal Van der Wijk kisah cinta mereka banyak yang kandas karena pertentangan orang tua yang memaksakan kehendak akan sebuah cinta demi masa depan. Ku pikir itu hanya sebuah dongeng dan film yang masih belum jelas kebenarannya. Tapi itu benar terjadi ketika seorang Rama yang sedang gigih mengikuti sayembara mengejar cintanya Shinta harus kandas ketika sang Raja menikahkan Shinta kepada putera Mahkota Kerajaan tetangga.

Disinilah persepsi harus diluruskan. Ketika kebahagiaan yang di impikan dari sebuah kata cinta dikalahkan dengan sebuah persepsi bahwa cinta hanya sebuah kata yang tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan. Harta memang benar menjadi penghancur kokohnya gembok suatu ikatan yang terjadi karena cinta. Dari sinilah kita belajar untuk memberikan sebuah persepsi baru tentang cinta.


CINTA TIDAK HANYA HARUS DIMENGERTI NAMUN JUGA HARUS DIPAHAMI, BAHWA SEBUAH PERSEPSI CINTA AKAN TUMBANG DENGAN SEBUAH PERSEPSI HARTA...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar