BAHAHAHA
GIA
Kesempatan ini sudah
tak terelakkan. Jika menunggu lagi takkan ada waktu. Ini lah saatnya bagiku
mengungkapkan seribu satu isi dalam benakku. Kegalauan yang acap kali
menghantui. Membuat bulu kuduk ini seakan tak mau duduk rapi.
Hari itu adalah hari
yang ku putuskan. Nyatakan ? Atau tidak sama sekali. Mempersiapkan rangkaian
kata yang ingin terucap bibir. Memberikan penampilan yang terbaik dan berdo’a
ingin itu akan terwujud.
Namun entah kenapa
diri ini menjadi kaku. Kata-kata yang sudah tersusun seakan pergi dan
berserakan ketika bertatap dengan dirinya. Kembali terurungkan niat ini untuk
bisa menyatakan kebohongan itu kepadanya. Namun, duduk persis dibelakangnya
membuat ku menggebu. Menuangkan kata-kata awal di secerca kertas, berharap pula
ada secerca harapan yang akan tercapai. Menunggu jawaban malah tak kunjung
datang. Tidak nampak sebuah respon yang positif dibalik badannya yang indah.
Beranjak dari situ ku
temuinya. Dengan mengumpulkan semua mental dan keberanian untuk bertanya
langsung ku hampiri ia dengan perlahan. Duh duh, memang hanya ia yang meluluh
lantakan jiwa ini dengan segores senyum. Terlempar sebuah pertanyaan dari suaranya yang lirih, seperti sebuah sirine
kebakaran yang harus membuat ku lari pontang-panting. Tapi, dengan mengucap
Basmallah akhirnya persiapan yang ku lakukan lebih dari satu bulan ini
terwujud.
Terpisah dengan
temannya ku dapat kesempatan untuk berdua. Menyisiri jalan Jakarta yang sempit
seakan-akan membuat suatu pertanda, bahwa kata-kata yang ku persiapkan dengan
luas turut pula menyempit. Bahagia bukan kepalang, setelah lama dekat dengannya
baru kali ini ku bisa sedekat ini dengan dirinya.
Mengeluarkan semua
isi hati, mengungkapkan semua ucapan yang ada di otak dan mengutarakan semua
yang terangkai membuat ku sedikit lega. Moment yang indah ini takkan mungkin
bisa terulang lagi. Kesempatan yang sempurna ini harus ku maksimalkan dengan
sepenuh hati.
Sayang, memang
disayang. Jawaban yang kuterima sungguh mengecewakan hati. Penolakannya membuat
ku terdiam. Kata tidak yang terlontar dari bibirnya membuat ku mati kutu. Ku tanyakan
mengapa ? Jawaban yang menurutku mustahil terurai dari bibir manisnya.
Selama ini gadis
cantik dihadapan ku ini mencoba membuka hati. Kesalahan ku dimasa lalu menjadi
alasan untuk kembali melihat seberapa besar inginku untuk menulis sebuah cerita
cinta yang baru. Dan tanpa ku duga yang membuat ku hampir lumpuh untuk
selamanya. Ia memiliki rasa yang sama dengan ku. Mungkin berlebihan jika ku
menyimpulkan itu karena ia tidak mengatakannya secara langsung. Tapi dari
setiap rangkaian kata yang ia nyatakan membuatku yakin bahwa rasa itu benar ia
miliki untukku.
Meski hari itu ia
masih menutup diri untukku. Tapi kebahagiaan tetap hadir dalam jiwa ku. Ku akan
tetap perjuangkan dirimu. Ku akan berusaha membuatmu mau menyapa cinta yang
kubuat tulus untuknya.
KU JELASKAN PADAMU,
KINI AKU BUKAN BERUSAHA UNTUK JADI PACARMU. TAPI KU BERUSAHA UNTUK BISA JADI
TERAKHIR BAGIMU.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar