Kamis, 07 November 2013

PERJALANAN BERHARGA, BADUY KAU SALAH SATU ISTANA NEGERI KU II

PERJALANAN BERHARGA, BADUY KAU SALAH SATU ISTANA NEGERI KU  II

Dinginnya pegunungan di Baduy Luar mulai terasa. Suara burung-burung, kokok ayam dan aktifitas masyarakat mulai bersautan. Pagi itu kami dijadwalkan untuk mendaki, menyusuri hutan dan melakukan perjalan kurang lebih 12 jam untuk sampai ke Baduy Dalam yang menjadi tujuan utama kami.

Mengawali dengan do’a kami siap berangkat. Sayang dapat beberapa ratus meter pendakian Aning sebutan untuk Kusumaningdiyah tak kuat untuk melanjutkan. Perjalanan mendaki, penuh batu, licin lumut, dan kotor kita jajaki. Langkah demi langkah teratasi. 3 kilometer pertama masih kita jalani dengan semangat seperti tak kenal lelah. Namun sudah ditengah jalan barulah terasa. Pegal dikaki terasa seperti dibebani besi baja. Keringat bercucuran dikening dan dahi mulai menetes. Terik panas diatas bukit mulai menyoroti. Mulailah muncul ego dalam diri pribadi masing-masing. Ada yang hanya mementingkan diri sendiri, ada yang ingin membantu dan berbagi. Sampai pula ada yang sekedar mencari kesempatn untuk bisa bersama sepanjang perjalanan dengan sang pujaan hati.

Kami hampir tak percaya harus melewati berbagai rintangan seperti ini. Lelah yang kami alami, cobaan yang kami hadapi dan jatuh bangun dalam melangkah menjadi hal yang seru. Kami disuguhkan keindahan dunia. Ku berkata “betapa bangganya ku menjadi bagian dari negeri yang kaya ini”. Terlihat disetiap sisi gunung sangat indah, hijau, asri dan mempesona ciptaan sang Illahi. Sejauh mata memandang gugusan gunung yang berjajar membuat kami lupa akan lelah dan letih yang kami hadapi. Kebersamaan, kepedulian makin terlihat ketika persediaan air menipis, jalanan yang mendaki terjal dan turunan yang tajam dan tak beraturan. Namun sayang barisan mulai pecah, ku yang menjaga beberapa rombongan berusaha adil dan membantu. Ketika lelah dan tak sanggup kami gunakan waktu untuk istirahat dan bersantai ria sejenak sambil memandangi pajangan-pajangan indah dunia. Kami kembali melanjutkan perjalanan, sesekali terdengar teriakan-teriakan semangat, canda tawa bahkan tak sedikit pula yang mengeluh dan hampir menyerah. Akhirnya kami sampailah pada tujuan utama kami, yakni Baduy Dalam Cibeo.

Semua rasa lelah, kantuk, pegal, lemas, pusing dan lain sebagainya terbayar lunas ketika kita berhasil bertatap muka dengan Kepala Desa atau biasa disebut Jaro. Berbincang dengan mereka, bertanya seperlu kita seakan-akan menjadi hadiah dari semua kerja keras. Kami pun makan siang, terdengar canda tawa dan kebersamaan kembali muncul. Namun sayang momen itu tak bisa kami abadikan dalam sebuah dokumentasi pemotretan karena larangan adat yang kuat.

Kami tak bisa berlama-lama disana. Karena perjalanan menurun yang cukup jauh dan cuaca sudah agak mendung. Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan kembali semangat. Namun sayang cuaca tak mendukung perjalanan pulang kami. Dalam perjalanan pulang, kami kembali kedalam bagian bagian, namun kini bagian yang cukup besar. Ada tiga bagian atau kloter dalam perjalanan pulang dan aku masuk dalam kloter pertama. Karena hujan semakin deras, ku memberikan jas hujan kepada teman ku sebab ia tak membawa jas hujan. Ketika hendak beristirahat, salah satu teman dikloter pertama meminta ku kembali ke atas dan memberikan jas hujan kepada temannya di kloter ke dua. Dengan rasa tanggung jawab ku kembali ke atas. Akhirnya bertemulah dengan kloter ke dua. Disana suasana menjadi agak sedikit menegangkan. Rasa takut mulai muncul diwajah mereka. Kloter kedua menemui medan yang cukup berat yakni harus menuruni jalan batu yang curam dan berlumpur. Kembali rasa peduli muncul dan berniat membantu. Namun sayang niat baik ini malah mendapatkan musibah kecil ketika ibu jari kaki kiri harus pecah kukunya karena tertiban bongkahan batu. Namun tak mengurungi niat ku untuk membantu.

Setelah kloter dua telah melewati rintangan itu kami melanjutkan perjalanan. Tapi sayang, ku ditinggal kloter pertama dan akhirnya melanjutkan perjalanan dengan kloter ke dua itu. Rasa dingin mulai menusuk dibadan karena kehujanan. Namun pada perjalanan pulang ada yang berbeda, suasana menjadi mencekam. Karena cuaca yang mulai gelap dan kondisi badan yang kedinginan. Beberapa mahasiswa mulai tak sanggup melanjutkan perjalanan. Perut yang kosong, rasa dingin yang amat menusuk, dan kaki yang mulai keram. Berkali-kali kita berhenti untuk beristirahat. Namun perjalanan kami sempat mendapat suatu penyemangat. Jembatan yang kami tunggu akhirnya pun terlihat dari kejauhan. Ya, jembatan cinta yang menurut mitos orang sekitar apabila kita menyebutkan nama orang yang kita sayang ketika menyebrangi jembatan itu ? maka akan terwujud keinginan itu. Ku mulai melangkah melewati jembatan itu, meski dengan rasa tak percaya aku coba untuk menaruh harapan agar seseorang dapat tahu tentang perasaan ini. Setelah semua melewati jembatan kami semua memutuskan untuk beristirahat sejenak.

Terlihat awan mulai gelap, kami kembali melangkah untuk pulang ke Baduy Luar. Perjalanan yang kami telurusi tak begitu sulit. Kami melewati beberapa desa, beberapa leuwit (gudang padi) dan jalanan batu. Suasana kembali mencekam ketika ada mahasiswi yang pingsan karena tak sanggup melanjutkan perjalanan. Beberapa dari kami memberikan pertolongan pertama. Ia pun sadar dan mulai melanjutkan perjalanan dengan perlahan. Akhirnya perjalanan kami sudah tak jauh lagi, sekitar 200 meter dari rumah tempat kami tinggal. Namun teman kami yang pingsan kami istirahatkan sejenak disalah satu teras rumah penduduk. Seorang warga pun datang dan berniat untuk menolong. Ia pun dibawa ke rumah kami tinggal dengan digendong dan yang lain melanjutkan perjalanan pulang. Tiba-tiba rombongan kecil yang berada pada baris belakang datang dengan keadaan panik. Keadaan semakin mencekam dan menakutkan ketika ada beberapa mahasiswi melihat hal gaib dan berteriak histeris. Kami pun memutuskan untuk kembali kerumah. Ada beberapa mahasiswi mulai berteriak kacau, dan terdengar sayu kejauhan lafaz al-qur’an bersautan. Beberapa teman mencoba membantu, dan ada warga yang ikut serta menolong. Akhirnya mereka sadar dan diistirahatkan.

Malam mulai datang, seperti biasa hanya ada kesunyian dan suara binatang yang terdengar memecah hening malam. Beberapa dari kami tidur larut malam karena sedang bercerita tentang pengalaman mendaki tadi. Dan beberapa sudah tidur karena kelelahan.

Paginya kami semua bangun dan bergegas untuk pulang. Namun sayang sang pemilik rumah yang ku tinggali tak ada. Kecewa dalam diriku bertamu selama tiga hari dua malam untuk tahu namanya pun tidak. Kami tak hanya bersiap, ada juga yang memanfaatkan waktu untuk berfoto-foto ria, membeli pernik khas Baduy dan lain sebagainya. Terlihat raut bahagia mereka, canda tawa yang mulai bersautan dimana-mana.

Setelah semua dipersiapkan kami pun mulai meninggalkan Baduy. Sedih dalam hati seakan-akan berat meninggalkan desa yang asri ini. Langkah ini malah berat seakan-akan enggan untuk pergi. Banyak perlajaran yang dapat kami petik dari semua ini. Kebersamaan, kekompakan, saling peduli, saling mengerti dan bisa menghargai alam serta menjunjung tinggi solidaritas kekeluargaan. Betapa hebatnya mereka meski dengan segala kekurangan dapat hidup dihutan belantara. Betapa hebatnya mereka yang tak mengeluh meski dengan segala keterbatasan. Aku bangga pernah merasakan ini semua, yang tak semua orang lain bisa menikmatinya. Terimakasih Baduy dengan semua pengalamanmu, terimakasih Allah dengan semua keindahan alam Mu, dan terimakasih Pendidikan IPS 2013 Universitas Negeri Jakarta dengan semua kenangan yang kau berikan. Dan terimakasih untuk kalian semua para sahabat dan pejuang mudaku.


KEKAYAAN INDONESIA BUKAN HANYA PADA KEKAYAAN ALAM SAJA. ADAT ISTIADAT, SUKU DAN RATUSAN BUDAYA YANG BERBEDA-BEDA JUGA MENJADI HARTA YANG SANGAT MELIMPAH. INI SEMUA PATUT KITA JAGA !!! INDONESIA, KU BANGGA JADI MILIKMU...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar