Kamis, 07 November 2013

PERJALANAN BERHARGA, BADUY KAU SALAH SATU ISTANA NEGERI KU I

PERJALANAN BERHARGA, BADUY KAU SALAH SATU ISTANA NEGERI KU  I

Menuju hal yang belum pernah ku dapatkan. Kala orang-orang masih terlelap. Ku bangun dengan sigap dan semangat. Mata yang masih sayu dan badan yang cukup lemas seperti tak terasa. Hari itu adalah hari yang ku tunggu. Yap, observasi ke pedalaman suku baduy yang ku tunggu kini tiba. Pagi itu kami seakan disambut gembira oleh mentari pagi yang menyehatkan. Dengan semua persiapan, kami berangkat menuju daerah yang sungguh sangat asing bagi kami. Sedih dalam hati mendengar berita yang tak mengenakan dalam diri. Salah satu teman kami tak bisa berangkat karena sakit. Tapi kami tetap semangat.

Setelah berkumpul dan lengkap dengan bawaan yang kami siapkan. Akhirnya kami naik ke sebuah truk angkut yang biasa mengangkut para TNI. Sepanjang perjalanan tak pernah sepi. Selalu ada yang diperbincangkan, nyanyian yang mengiringi perjalanan, dan lelucon yang kerap kali memecah kesunyian. Terik matahari seperti enggan beranjak dari ufuk timur. Ku naik diatas truk dekat kepala truk itu. Angin yang kencang dan kondisi mesin mobil serta cuaca yang panas seperti tak ku hiraukan. Akhirnya setelah menempuh 2 jam perjalanan aku bisa melihat pegunungan yang asri dari kejauhan. Meski ada rasa kecewa karena banyaknya bukit yang gundul, tambang pasir dan pembalakan liar yang merusak keindahan.

Sampailah kami pada tempat peristirahatan untuk melaksanakan ibadah Shalat Jum’at untuk para pria yang muslim. Dan para wanita yang sibuk kipas-kipas dan mencari minum. Selepas Shalat Jum’at dan makan siang kami kembali berangkat sekitar 3 jam perjalanan lagi. Singkat cerita kami sampai di terminal Ciboleger sekitar jam 4 sore. Sampailah kami di Baduy Luar tempat orang-orang suku Baduy yang masih menerima pengaruh dari luar istiadat mereka. Benar-benar tak kami temukan kabel listrik ditiap atap rumahnya. Tak lama turunlah hujan yang sejuk seakan-akan menyambut kehadiran kami disana. Canda tawa, keseruan dan rasa dingin mulai menyelimuti sore itu.

Kami pun diajak oleh para mentor untuk menuju rumah singgah kami. Namun sayang ketika ku masuk dan hendak berkenalan dengan sang pemilik istana, mereka seakan-akan menutup diri. Namun kami mengerti mungkin ini karena faktor lingkungan mereka yang sejak dulu seperti ini.


Malam pun tiba, kami pun selesai dengan bersih-bersih ala mahasiswa kost-kostan. Disajikan lah kami makanan yang sungguh sederhana. Dalam satu rumah terisi 8-10 mahasiswa. Kami makan dengan lahapnya seakan-akan makanan yang kami makan adalah makanan terlezat macam restoran ternama. Ketika matahari tak lagi terlihat, gelap dan kesunyian pun sangat terasa. Ku putuskan untuk mampir ke rumah yang para bidadari tinggali. Canda tawa memecah kesunyian di Baduy Luar. Ngemil, cerita ngalor dan ngidul, foto-foto eksis dan lainnya kami lakukan sampai lupa dengan waktu. Setelah malam makin larut kami semua memutuskan untuk tidur dan mempersiapkan diri untuk perjalanan esok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar