PERJALANAN
BERHARGA, BADUY KAU SALAH SATU ISTANA NEGERI KU
I
Menuju hal yang belum
pernah ku dapatkan. Kala orang-orang masih terlelap. Ku bangun dengan sigap dan
semangat. Mata yang masih sayu dan badan yang cukup lemas seperti tak terasa.
Hari itu adalah hari yang ku tunggu. Yap, observasi ke pedalaman suku baduy
yang ku tunggu kini tiba. Pagi itu kami seakan disambut gembira oleh mentari
pagi yang menyehatkan. Dengan semua persiapan, kami berangkat menuju daerah
yang sungguh sangat asing bagi kami. Sedih dalam hati mendengar berita yang tak
mengenakan dalam diri. Salah satu teman kami tak bisa berangkat karena sakit.
Tapi kami tetap semangat.
Setelah berkumpul dan
lengkap dengan bawaan yang kami siapkan. Akhirnya kami naik ke sebuah truk
angkut yang biasa mengangkut para TNI. Sepanjang perjalanan tak pernah sepi.
Selalu ada yang diperbincangkan, nyanyian yang mengiringi perjalanan, dan
lelucon yang kerap kali memecah kesunyian. Terik matahari seperti enggan
beranjak dari ufuk timur. Ku naik diatas truk dekat kepala truk itu. Angin yang
kencang dan kondisi mesin mobil serta cuaca yang panas seperti tak ku hiraukan.
Akhirnya setelah menempuh 2 jam perjalanan aku bisa melihat pegunungan yang
asri dari kejauhan. Meski ada rasa kecewa karena banyaknya bukit yang gundul,
tambang pasir dan pembalakan liar yang merusak keindahan.
Sampailah kami pada
tempat peristirahatan untuk melaksanakan ibadah Shalat Jum’at untuk para pria
yang muslim. Dan para wanita yang sibuk kipas-kipas dan mencari minum. Selepas
Shalat Jum’at dan makan siang kami kembali berangkat sekitar 3 jam perjalanan
lagi. Singkat cerita kami sampai di terminal Ciboleger sekitar jam 4 sore.
Sampailah kami di Baduy Luar tempat orang-orang suku Baduy yang masih menerima
pengaruh dari luar istiadat mereka. Benar-benar tak kami temukan kabel listrik
ditiap atap rumahnya. Tak lama turunlah hujan yang sejuk seakan-akan menyambut
kehadiran kami disana. Canda tawa, keseruan dan rasa dingin mulai menyelimuti
sore itu.
Kami pun diajak oleh
para mentor untuk menuju rumah singgah kami. Namun sayang ketika ku masuk dan
hendak berkenalan dengan sang pemilik istana, mereka seakan-akan menutup diri.
Namun kami mengerti mungkin ini karena faktor lingkungan mereka yang sejak dulu
seperti ini.
Malam pun tiba, kami
pun selesai dengan bersih-bersih ala mahasiswa kost-kostan. Disajikan lah kami
makanan yang sungguh sederhana. Dalam satu rumah terisi 8-10 mahasiswa. Kami
makan dengan lahapnya seakan-akan makanan yang kami makan adalah makanan
terlezat macam restoran ternama. Ketika matahari tak lagi terlihat, gelap dan
kesunyian pun sangat terasa. Ku putuskan untuk mampir ke rumah yang para
bidadari tinggali. Canda tawa memecah kesunyian di Baduy Luar. Ngemil, cerita
ngalor dan ngidul, foto-foto eksis dan lainnya kami lakukan sampai lupa dengan
waktu. Setelah malam makin larut kami semua memutuskan untuk tidur dan mempersiapkan
diri untuk perjalanan esok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar