TAHAN
HATI
Hati terus
berdegub. Berdegub untuk menantang perasaan yang tak bisa terungkapkan. Dada
terus sesak memendam milyaran nafas cinta yang ingin terhembus. Seruan untuk
mengungkapkan terus berdengung di otak ku yang kusut, terus menggema
ditelingaku yang penuh dengan kotoran yang menjijikan. Menahan itu menyakitkan
tapi berucap belum tentu mengasikan. Seperti menahan mules yang berlebihan dan
makan rumput dengan luas puluhan hektare.
Ketika hati
dan mulut tak ingin lagi bekerjasama. Kehadiranmu menjadi tombak yang mematikan.
Aku siap jadi lingkaran sasaran ujung tombak yang penuh racun menghanyutkan.
Seperti petir yang datang mengkacaukan suasana ditengah kesejukan triliyunan
rintik hujan yang jatuh dan hingap di bumi. Ketika menahan rasa ini seperti
cahaya lilin di tengah kegelapan malam, berusaha tetap menyala namun takkan
bertahan lama. Seperti burung gagak yang berkeliaran di tengah siang mencari
hari malam yang tak kunjung datang. Dan ku selalu berharap menahan itu menjadi
suatu harapan yang akan terwujud tanpa diungkapkan. Aku berani bisu ketika orang berusaha menunjukkan itu
semua padamu. Aku berani tuli ketika orang sedang membicarakan segala
kelemahanmu. Dan aku berani tak bisa berfikir jika satu detik saja kau jauh
dari dari pikiran ku. Kuputuskan dipengadilan hati ini untuk tak mengungkapkan
dalam lembar-lembar sisa kehidupan ini. Agar kamu tau sendiri dari awan biru
yang menghitam bahwa rasa ingin ku besar untuk menggapai sejuta kenangan
bersama mu.
PERCAYALAH
CINTA KU TULUS UNTUKMU, BIDADARI SURGA KU...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar