Kamis, 22 Mei 2014

AKU BERBEDA



AKU BERBEDA
Dulu ada sepasang kekasih dari akar keluarga yang berbeda. Sang pria bernama Agus Surahman yang tamatan SLTP memacari seorang gadis nan cantik yang juga lulusan SLTP bernama Sa’anih. Pada tahun 1991 mereka memutuskan untuk mengikatan tali pernikahan. Sejak awal membina bahtera rumah tangga sang istri tidak mau tinggal dengan menyewa kontrakan, sang istri lebih memilih tinggal dirumah orangtua sang suami. Sang suami yang hanya berkerja sebagai supir bus di ibu kota memilih tidak mau terus-terusan merepotkan orangtuanya. Bermodalkan sepetak tanah pemberian Ayahnya, suami istri itu sedikit demi sedikit membangun istana mereka yang sederhana, dengan menyisihkan pendapatan dari menjadi supir bus dan sang istri yang bekerja di perusahaan menjahit.
Setahun membina rumah tangga mereka tidak dikaruniai seorang anak, bukan karena salah satu  dari mereka mandul namun karena sang istri yang usianya masih sangat muda enggan memiliki seorang anak. Namun mereka berdua harus mengangkat seorang bayi perempuan yang tidak lain adalah keponakan sang istri. Bayi tersebut harus kehilangan ibunya karena meninggal dunia, sejak itulah bayi itu menjadi bagian dari keluarga sederhananya. Bayi perempuan nan cantik dan mungil itu diberi nama Ina Surahman.
Empat tahun membina bahtera rumah tangga mereka masih tidak memiki anak kandung hasil pernikahan mereka. Akhirnya dengan desakan keluarga dan suami, sang istri berhenti untuk KB dan akhirnya mereka dikaruniai calon seorang bayi. Bulan demi bulan dilewati dengan normal, tanpa adanya keanehan-keanehan. Namun setelah 9 bulan mengandung calon bayi tak kunjung mempunyai tanda-tanda untuk keluar dari rahim ibunya. Dengan harap-harap cemas suami istri ini terus berdo’a untuk kelahiran anaknya yang disegerakan karena memang sudah waktunya. Namun Allah berkehendak lain, setelah sebelas bulan mengandung akhirnya sang bayi yang ditunggu-tunggu keluarga dan pasangan suami istri ini pun lahir dengan proses persalinan normal dan dibantu oleh dukun beranak dirumah. Seorang anak berjenis kelamin laki-laki ini akhirnya muncul dan menangis untuk pertama kali pada dini hari sebelum adzan subuh berkumandang. Anak yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga, berbeda dengan bayi normal lainnya yang hanya ada dalam kandungan sembilan bulan bayi laki-laki ini harus bertahan lebih lama selama sebelas bulan dalam kandungan ibunya. Kedua orang yang sedang berbahagia itu sangat senang karena anaknya terlahir normal tanpa cacat sedikit pun seperti apa yang orang-orang atau mitos katakan jika anak terlahir lebih lama akan mengalami cacat fisik atau mental.  Terlebih raut kebahagiaan sangat terlihat dari wajah sang ayah yang memang mengidam-idam kan anak laki-laki yang akan meneruskan tahta keluarganya.
Bulan pertama si bayi ini bernafas, tidak ada yang salah. Bayi yang diberi nama Firman Surahman ini baru mengalami keganjalan di usianya yang baru menginjak dua bulan. Leher si bayi mengalami kelumpuhan, tidak mampu bergerak dengan sendirinya, harus selalu ditopang dan diarahkan dengan bantal lembut oleh ibunya. Sang istri yang sudah menjadi ibu ini pun mengalami goncangan batin yang kuat, tak sampai hati melihat putera kebanggaannya harus hidup dengan cacat. Sambil menyusui si ibu mendekap dengan hangat anaknya dengan pelukan lembut dan terus berdo’a agar penderitaan anaknya cepat terselesaikan. Sang ibu hanya bisa menangis dan menangis jika melihat kondisi anaknya ketika menyusui dan memandikakn sang anak. Begitu pula sang ayah yang tak kuat membendung air matanya. Sepulang kerja sang suami yang sudah menjadi ayah ini harus menangis, bahkan ketika kerja pun selalu yang dipikirkan adalah kondisi sang jagoan yang berada dirumah.
Selama puteranya mengalami cacat sang ayah enggan untuk menggendong sang anak, jangan pun untuk menggendong melihat kondisi anaknya seperti itu sang ayah tak sanggup. “Entah dosa apa yang pernah saya perbuat sehingga anak hamba yang harus menanggung akibatnya” sang ayah selalu berkata demikian jika melihat kondisi anaknya. Namun keluarga yang berduka itupun harus sangat beruntung memiliki orangtua yang masih sangat peduli dan menyayangi mereka. Setiap pagi dan sore ibu dari sang ayah pun dengan rutin datang kerumah kecil yang dibangun suami istri tersebut. Dengan telaten dan sabar sang nenek menguruti leher cucunya yang malang itu. Sehingga selama tiga bulan berlalu sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Sang bayi laki-laki yang awalnya seperti tidak memiliki tulang leher akhirnya sedikit demi sedikit bisa menggerakan lehernya. Raut bahagia pun hadir dari kedua orangtua sang bayi, begitu pula keluarga besarnya yang sangat bahagia melihat perubahan yang terjadi. Namun setelah perubahan yang positif terjadi kembali muncul perubahan pada fisiknya. Kulitnya yang awalnya nampak putih biasa, kian bertambah usia si anak mengalami perubahan warna menjadi agak kecoklatan dan akhirnya menghitam.
Kian lama, bayi ini tumbuh besar. Disaat memasuki usia balita suami istri ini kembali terbelenggu akan kekhawatiran yang kini hadir dalam benak mereka. Anak mereka di usia lebih kurang 3 tahun masih belum dapat berjalan seperti balita normal pada umumnya. Kembali bayang-bayang mitos yang mengatakan jika seorang anak lahir tidak pada waktu yang pas akan mengalami cacat baik dari mental maupun fisik, mitos itulah yang dijadikan kekhawatiran yang sangat besar bagi sepasang suami istri ini. Dengan sabar melatih anaknya untuk belajar berjalan, anak ini juga mendapati dirinya sulit berbicara. Melihat puteranya yang sejak dalam kandungan hingga usia seperti itu suami istri ini khawatir kelak ketika dewasa anak mereka akan hidup dengan keterbelakangan fisik atau pun mental.
Namun ketika menginjak usia 4 tahun puteranya menunjukan perubahan yang signifikan. Anak pasangan suami istri ini sudah lebih fasih menghafal bacaan dasar al-qur’an, kemudian ketika diajarkan hitung menghitung anaknya sudah lebih cekatan dan pada usia 5 tahun anak yang sejak bayi ini mengalami keterlambatan mengalami perubahan besar, selain bisa membaca al-qur’an dan menghitung, putera dari sepasang suami istri yang sederhana ini, sudah mampu membaca dengan lancar. Ini semua membantah segala tudingan dari mitos-mitos yang banyak berkembang. Sang ayah dengan telaten terus mengajari puteranya belajar tanpa memasukannya ke sekolah Taman Kanak-Kanak.
Di usia 5 tahun juga puteranya sudah menunjukan keberanian dan tekad yang luar biasa. Di usia yang masih mungil dan sangat belia itu Firman sudah meminta dirinya untuk dikhitan, namun sang ayah enggan untuk menuruti kemauan anaknya, karena melihat usia sang anak yang masih sangat belia dan pernah memiliki banyak pengalaman buruk semasa bayi sehingga ayahnya tak mau mengambil resiko besar. Namun tekad si anak tidak sampai di situ, tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya si anak ini mendatangi dan mendaftarkan dirinya sebagai peserta khitan massal di masjid dekat kediamannya. Sontak membuat kedua orangtuanya kaget dan menjemput anaknya setelah mendapati berita tersebut.
Akhirnya pada usia 6 tahun setelah satu semester menjalani kehidupan di sekolah dasar keinginan Firman dapat dipenuhi kedua orangtuanya. Dengan iming-iming berhasil mampu masuk tiga besar rangking kelas maka kemauan bocah ini akan diujudkan. Acara khitanan yang cukup besar digelar kedua orangtuanya. Tak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan demi anak kebanggaannya yang terpenting acara hajatan yang menjadi acara pertama dan terakhir dalam hidupnya ini harus semeriah mungkin.
Di usia yang masih kanak-kanak tersebut kedua orangtua Firman menguatkan dan menanam mental ketabahan yang sangat luar biasa. Mendapati anaknya masih berbicara gagap dan kurang jelas kemudian memiliki warna kulit yang hitam kedua orangtua yang luar biasa ini terus mensupport anaknya agar tidak memiliki perasaan pendendam dan menjadi pria yang penyabar untuk selalu tersenyum dalam menghadapi kendala serta masalah dalam hidupnya.
Semua cerita yang aku ceritakan diatas baru saja aku ketahui setelah genap berusia 18 tahun pada 20 maret 2014 lalu. Tergugah hati dan perasaan setelah mendapati cerita yang memilukan ini dan mendapatkan kenyataan ternyata aku berbeda. Perjuangan masa kecil yang besar dan ketulusan kasih sayang kedua orangtua ku yang luar biasa menjadi kekuatan ku kini untuk menantang kehidupan. Aku berbeda, itu yang membuat ku yakin bahwa perbedaan itu yang membuatku bernafas kencang dan berjalan tegak untuk menuju jalan kesuksesan.
“Hidup itu adalah anugerah yang luar biasa, senyuman adalah hadiah yang mahal harganya dan perjuangan adalah sebuah proses dari hasil yang menakjubkan dalam kehidupan. Jangan menyerah, awal yang buruk adalah sebuah akhir dari suatu kunci keberhasilan” Firman Surahman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar