Rabu, 14 Mei 2014

Organisashit



Organisa“shit”

Ingatkah 20 Mei 1908 saat dimana pemuda Indonesia mendirikan perkumpulan. Perkumpulan tersebut terdiri dari para pemuda-pemuda Indonesia yang terdidik dan memiliki intelektual yang tinggi. Meski saat itu pendidikan formal hanya didapatkan bagi orang-orang yang memiliki banyak uang dan dekat dengan para penjajah. Tak menyurutkan semangat mereka merubah bangsa. Para pemuda memberi nama perkumpulan itu “Boedi Oetomo”. Boedi Oetomo adalah organisasi pemuda pertama yang mampu tumbuh pesat dan besar yang dibuat oleh para pemuda di Indonesia pada kala itu. Gerakan Boedi Oetomo mampu bergerak dan menyebar pesat hampir keseluruh Indonesia. Tujuan mereka hanya satu, mampu melawan penjajah melalui pendidikan. Karena pendidikan adalah tiang sebenar-benarnya dalam kehidupan.

Pada masa penjajahan entah kenapa pemuda yang memiliki intelektual tinggi sangat bersemangat membangun organisasi. Mereka benar-benar mementingkan kepentingan bersama daripada individu atau kelompok lainnya. Mungkin masa itu tai kucing dianggap coklat kali yah sehingga betapa menjijikan dan kejamnya para penjajah melawan mereka, mereka tetap berani menantang tanpa takut bahkan tetap menikmatinya.

Ingatkah 16 Agustus 1945 saat dimana proklamasi belum diucapkan. Melalui organisasi atau mereka menyebutnya golongan, terbentuklah golongan tua dan golongan muda yang mampu memanfaatkan celah kekosongan untuk merumuskan kemederkaan. Tujuan yang disamakan, dan semangat yang diratakan sehingga mereka tak lagi menganggap tai kucing itu enak, tapi coklat lah yang harus diolah dan dibuat nikmat.

Tentu masih ingat cerita papah dan mamah pada tragedi 12 Mei 1998. Para mahasiswa yang tergabung dalam puluhan organisasi mampu menggerakan ribuan massa. Mereka melalui persatuan organisasi mampu merontokan Soeharto yang menjabat secara otoriter di Indonesia. Masa itu disebut reformasi. Tak peduli panas, darah dan hilangnya nyawa. Demi perubahan Indonesia mereka siap melalukan apa saja. 

Tapi seiring berkembangnya jaman dan waktu. Perkumpulan itu hanya sebuah tameng dan akal-akalan saja. Jabatan yang tinggi untuk dapetin gebetan yang cantik/ganteng atau menguasai demi kepentingan kelompoknya. Bertolak belakang sekali dengan apa yang dilakukan para organisatoris dulu. Organisasi kini bak sebuah kata yang asing, kegiatan yang ada hanyalah sebuah pencitraan dari sebuah keberhasilan perjalanan.

Who is you ? Who is me ? We are have a different guys ! I’m bos and you ? Just staff. Itu adalah kata-kata yang kerap kali keluar, bahkan dalam organisasi yang ruang lingkupnya sederhana seperti OSIS di sekolah atau BEM di kampus. Jabatan sering kali membatasi status strata sosial berorganisasi. “Gue yang kuasa ? Lo mau apa ? Terserah gue mau ambil keputusan apa aja ?” Itu adalah lontaran kata anak gaul yang memiliki jabatan tinggi dalam suatu organisasi. Tak mau disalahkan, tak mau mendengar orang lain dan selalu benar itu adalah orang yang sombong dan sok perferctsionis atau bisa dibilang memiliki egoisme yang diatas rata-rata, dan baginya itu sebuah prestasi yang luar biasa.

Pernah kurasakan saat kepentingan bersama menjadi sandungan mengejar mimpi. Melihat sesuatu hanya dari satu sisi, tanpa mengetahui atau mengkroscek lebih dalam seperti filsafat yang selalu berusaha mencari kebenaran.

Dalam sebuah pembuatasn film tak akan berjalan dengan hanya adanya creator, namun actor juga menjadi faktor penting dalam kesuksesan yang akan didapatkan. Begitu juga sebuah organisasi tak hanya membutuhkan para konseptual, melaikan para penggerak dalam hal ini orang-orang yang mau dan rela meluangkan waktu dan tenaga ekstranya untuk menjalankan dengan baik apa yang sudah dikonsepkan. Maka fungsi sebenarnya orgasnisasi akan terwujud secara nyata. 

Wajar adanya banyak organisasi kini dimanfaatkan beberapa fihak. Mau untuk memenuhi kepentingan individunya maupun kelompok. Sesungguhnya fungsi nyata organisasi itu sedang dibusukan melalui campuran-campuran manusia yang tak beradab dan egois.

Organisashit !!! Kerap orang menyebutnya dengan kasar. Memang banyak manfaatnya ketika kita berkomitmen ikut masuk dan tergabung dalam organisasi. Mendapatkan pengalaman baru “katanya”, mudah bersosialisasi “katanya”, mudah bergaul “katanya” dan mudah memecahkan masalaha “katanya”. Bukti nyata menyatakan banyak masalah yang diselesaikan malah meninggalkan bekas, seperti orang kentut pergi meninggalkan bau dan manusia mati meninggalkan nama. Seperti itulah organisasi kini, lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya dan lebih banyak pamer namanya daripada pamer kesuksesan setiap acaranya.

Pengertian, berkomitmen, bertanggung jawab, egois yang harus dikontrol dan penyamaan persepsi yang harus dilakukan adalah kunci dan langkah-langkah agar fungsi organisasi berjalan dengan baik. Bukan saling menyalahkan, menggurui atau memanfaatkan jabatannya.

ORGAN DAN SASI, DUA KATA YANG BERJALAN BERIRINGAN BUKAN BERSELISIHAN. SHIT !!! KEKECAWAAN YANG HARUS DIDAPATKAN JIKA SEMUA HANYA MEMENTINGKAN DIRINYA SENDIRI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar