Organisa“shit”
Ingatkah
20 Mei 1908 saat dimana pemuda Indonesia mendirikan perkumpulan. Perkumpulan
tersebut terdiri dari para pemuda-pemuda Indonesia yang terdidik dan memiliki
intelektual yang tinggi. Meski saat itu pendidikan formal hanya didapatkan bagi
orang-orang yang memiliki banyak uang dan dekat dengan para penjajah. Tak
menyurutkan semangat mereka merubah bangsa. Para pemuda memberi nama
perkumpulan itu “Boedi Oetomo”. Boedi Oetomo adalah organisasi pemuda pertama
yang mampu tumbuh pesat dan besar yang dibuat oleh para pemuda di Indonesia
pada kala itu. Gerakan Boedi Oetomo mampu bergerak dan menyebar pesat hampir
keseluruh Indonesia. Tujuan mereka hanya satu, mampu melawan penjajah melalui
pendidikan. Karena pendidikan adalah tiang sebenar-benarnya dalam kehidupan.
Pada
masa penjajahan entah kenapa pemuda yang memiliki intelektual tinggi sangat
bersemangat membangun organisasi. Mereka benar-benar mementingkan kepentingan
bersama daripada individu atau kelompok lainnya. Mungkin masa itu tai kucing
dianggap coklat kali yah sehingga betapa menjijikan dan kejamnya para penjajah
melawan mereka, mereka tetap berani menantang tanpa takut bahkan tetap
menikmatinya.
Ingatkah
16 Agustus 1945 saat dimana proklamasi belum diucapkan. Melalui organisasi atau
mereka menyebutnya golongan, terbentuklah golongan tua dan golongan muda yang
mampu memanfaatkan celah kekosongan untuk merumuskan kemederkaan. Tujuan yang
disamakan, dan semangat yang diratakan sehingga mereka tak lagi menganggap tai
kucing itu enak, tapi coklat lah yang harus diolah dan dibuat nikmat.
Tentu
masih ingat cerita papah dan mamah pada tragedi 12 Mei 1998. Para mahasiswa
yang tergabung dalam puluhan organisasi mampu menggerakan ribuan massa. Mereka
melalui persatuan organisasi mampu merontokan Soeharto yang menjabat secara
otoriter di Indonesia. Masa itu disebut reformasi. Tak peduli panas, darah dan
hilangnya nyawa. Demi perubahan Indonesia mereka siap melalukan apa saja.
Tapi
seiring berkembangnya jaman dan waktu. Perkumpulan itu hanya sebuah tameng dan
akal-akalan saja. Jabatan yang tinggi untuk dapetin gebetan yang cantik/ganteng
atau menguasai demi kepentingan kelompoknya. Bertolak belakang sekali dengan
apa yang dilakukan para organisatoris dulu. Organisasi kini bak sebuah kata
yang asing, kegiatan yang ada hanyalah sebuah pencitraan dari sebuah
keberhasilan perjalanan.
Who is you ? Who is me ? We are have a different
guys ! I’m bos and you ? Just staff. Itu adalah kata-kata yang kerap kali
keluar, bahkan dalam organisasi yang ruang lingkupnya sederhana seperti OSIS di
sekolah atau BEM di kampus. Jabatan sering kali membatasi status strata sosial
berorganisasi. “Gue yang kuasa ? Lo mau apa ? Terserah gue mau ambil keputusan
apa aja ?” Itu adalah lontaran kata anak gaul yang memiliki jabatan tinggi
dalam suatu organisasi. Tak mau disalahkan, tak mau mendengar orang lain dan
selalu benar itu adalah orang yang sombong dan sok perferctsionis atau bisa dibilang
memiliki egoisme yang diatas rata-rata, dan baginya itu sebuah prestasi yang
luar biasa.
Pernah
kurasakan saat kepentingan bersama menjadi sandungan mengejar mimpi. Melihat
sesuatu hanya dari satu sisi, tanpa mengetahui atau mengkroscek lebih dalam
seperti filsafat yang selalu berusaha mencari kebenaran.
Dalam
sebuah pembuatasn film tak akan berjalan dengan hanya adanya creator, namun
actor juga menjadi faktor penting dalam kesuksesan yang akan didapatkan. Begitu
juga sebuah organisasi tak hanya membutuhkan para konseptual, melaikan para
penggerak dalam hal ini orang-orang yang mau dan rela meluangkan waktu dan
tenaga ekstranya untuk menjalankan dengan baik apa yang sudah dikonsepkan. Maka
fungsi sebenarnya orgasnisasi akan terwujud secara nyata.
Wajar
adanya banyak organisasi kini dimanfaatkan beberapa fihak. Mau untuk memenuhi
kepentingan individunya maupun kelompok. Sesungguhnya fungsi nyata organisasi
itu sedang dibusukan melalui campuran-campuran manusia yang tak beradab dan
egois.
Organisashit
!!! Kerap orang menyebutnya dengan kasar. Memang banyak manfaatnya ketika kita
berkomitmen ikut masuk dan tergabung dalam organisasi. Mendapatkan pengalaman
baru “katanya”, mudah bersosialisasi “katanya”, mudah bergaul “katanya” dan
mudah memecahkan masalaha “katanya”. Bukti nyata menyatakan banyak masalah yang
diselesaikan malah meninggalkan bekas, seperti orang kentut pergi meninggalkan
bau dan manusia mati meninggalkan nama. Seperti itulah organisasi kini, lebih
banyak mudaratnya daripada manfaatnya dan lebih banyak pamer namanya daripada
pamer kesuksesan setiap acaranya.
Pengertian,
berkomitmen, bertanggung jawab, egois yang harus dikontrol dan penyamaan
persepsi yang harus dilakukan adalah kunci dan langkah-langkah agar fungsi
organisasi berjalan dengan baik. Bukan saling menyalahkan, menggurui atau
memanfaatkan jabatannya.
ORGAN
DAN SASI, DUA KATA YANG BERJALAN BERIRINGAN BUKAN BERSELISIHAN. SHIT !!!
KEKECAWAAN YANG HARUS DIDAPATKAN JIKA SEMUA HANYA MEMENTINGKAN DIRINYA SENDIRI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar