Kamis, 22 Mei 2014

KOK ? MITMEN

KOK ? MITMEN

Dahulu kala ada sekumpulan pemuda yang berembuk dan duduk bersama. Banyak perbincangan untuk meluruskan kehidupan berbangsa. Para pemuda itu duduk sama rata dan berdiri sama tinggi. Dengan konsisten mereka berjanji dan bersumpah untuk Indonesia. Kumpulan pemuda itu merumuskan sebuah sumpah yang menjadi Sejarah luar biasa. Sumpah Pemuda biasa kita menyebutnya. Berpenggang teguh aspek kerja sama menjadi kunci eratnya genggaman untuk Indonesia Raya.

Kini ada sekumpulan mahasiswa yang sangat sulit untuk duduk bersama. Hanya mampu berbincang demi kehidupan pribadinya. Para mahasiswa itu duduk tidak sama-sama dan mereka berdiri semaunya. Mereka hanya mengucap janji tanpa sebuah bukti. Dari dulu hingga kini mereka tak pernah merumuskan sebuah Sejarah. Surat keputusan yang ada pun kini hanya sebatas sebutan saja. Tidak pernah berpenggang teguh pada aspek kekeluargaan yang menjadi kunci masa depan kehidupannya.

Ini bukan berbicara mengenai perbandingan, tapi ini berbicara mengenai perbedaan. Dahulu pemuda berikrar untuk berpegang teguh pada sebuah janji dan kesepakatan, tapi kini mahasiswa berikrar hanya untuk sebuah ucapan dan pemikiran. Terbukti kini sebuah komitmen tak lagi berlaku sebagai perjanjian yang sakral. Dari dua generasi berbeda terpampang nyata bahwa sebuah bukti hanya terucap palsu belaka.

Kasta komitmen seharusnya lebih tinggi dari janji. Janji hanya terpenuhi jika satu bukti telah dijalani. Tapi komitmen harus terus dijalani secara konsisten dan penuh tanggung jawab  dengan berbagai bukti. Tapi lihat mahasiswa sekarang tak pernah konsisten dengan apa yang terucap. Berlagak seperti jagoan dari belahan masyarakat, tapi jika sudah diatas mereka lupa dengan apa yang pernah mereka sirat.

Kok ? Mitmen. Ini menjadi kalimat pembeda. Dahulu dan sekarang memang tak akan pernah sama tapi semangat perjuangan “harusnya” tetap ada. Andai mahasiswa bisa konsisten dengan apa yang dia kerjakan, andai mahasiswa bisa konsisten dengan apa yang dia amanahkan dan andai mahasiswa bisa konsisten dengan apa yang dia ucapkan. Maka negara ini akan konsisten dengan apa yang dia lakukan untuk pemuda sebagai generasi penerus bangsa.

Jangan berikrar jika itu sukar dan jangan berjanji jika sulit dipenuhi. Berbuat selalu untuk sebuah bukti, dan bukti untuk berkomitmen memang benar harus selalu konsisten ditegakkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar