KOK ? MITMEN
Dahulu
kala ada sekumpulan pemuda yang berembuk dan duduk bersama. Banyak perbincangan
untuk meluruskan kehidupan berbangsa. Para pemuda itu duduk sama rata dan
berdiri sama tinggi. Dengan konsisten mereka berjanji dan bersumpah untuk Indonesia.
Kumpulan pemuda itu merumuskan sebuah sumpah yang menjadi Sejarah luar biasa.
Sumpah Pemuda biasa kita menyebutnya. Berpenggang teguh aspek kerja sama
menjadi kunci eratnya genggaman untuk Indonesia Raya.
Kini
ada sekumpulan mahasiswa yang sangat sulit untuk duduk bersama. Hanya mampu
berbincang demi kehidupan pribadinya. Para mahasiswa itu duduk tidak sama-sama
dan mereka berdiri semaunya. Mereka hanya mengucap janji tanpa sebuah bukti.
Dari dulu hingga kini mereka tak pernah merumuskan sebuah Sejarah. Surat
keputusan yang ada pun kini hanya sebatas sebutan saja. Tidak pernah berpenggang
teguh pada aspek kekeluargaan yang menjadi kunci masa depan kehidupannya.
Ini
bukan berbicara mengenai perbandingan, tapi ini berbicara mengenai perbedaan.
Dahulu pemuda berikrar untuk berpegang teguh pada sebuah janji dan kesepakatan,
tapi kini mahasiswa berikrar hanya untuk sebuah ucapan dan pemikiran. Terbukti
kini sebuah komitmen tak lagi berlaku sebagai perjanjian yang sakral. Dari dua
generasi berbeda terpampang nyata bahwa sebuah bukti hanya terucap palsu
belaka.
Kasta
komitmen seharusnya lebih tinggi dari janji. Janji hanya terpenuhi jika satu
bukti telah dijalani. Tapi komitmen harus terus dijalani secara konsisten dan
penuh tanggung jawab dengan berbagai
bukti. Tapi lihat mahasiswa sekarang tak pernah konsisten dengan apa yang
terucap. Berlagak seperti jagoan dari belahan masyarakat, tapi jika sudah
diatas mereka lupa dengan apa yang pernah mereka sirat.
Kok
? Mitmen. Ini menjadi kalimat pembeda. Dahulu dan sekarang memang tak akan
pernah sama tapi semangat perjuangan “harusnya” tetap ada. Andai mahasiswa bisa
konsisten dengan apa yang dia kerjakan, andai mahasiswa bisa konsisten dengan
apa yang dia amanahkan dan andai mahasiswa bisa konsisten dengan apa yang dia
ucapkan. Maka negara ini akan konsisten dengan apa yang dia lakukan untuk
pemuda sebagai generasi penerus bangsa.
Jangan
berikrar jika itu sukar dan jangan berjanji jika sulit dipenuhi. Berbuat selalu
untuk sebuah bukti, dan bukti untuk berkomitmen memang benar harus selalu
konsisten ditegakkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar