B“EGO”IS
ME
Ada
seorang pemuda yang yang aktif. Ia tergabung dalam suatu organisasi ruang
lingkup mahasiswa. Pemuda ini sangat cakap dalam berbicara, memiliki gagasan
dan ide yang luar biasa serta memiliki jiwa kepemimpinan yang lumayan. Hampir
semua potensi ia miliki. Namun sayang sungguh disayang, dibalik potensi atau
kelebihannya terselip kelemahan yang menghancurkan semua potensi yang ada.
Pemuda ini memiliki rasa egois yang berlebihan. Karena memiliki semua potensi
yang membanggakan ia selalu merasa bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, ia
merasa bisa mengatur suatu acara tanpa bantuan orang-orang diluar
kepentingannya. Padahal konsep manusia sebagai makhluk sosial tak lepas dari
saling ketergantungan dengan orang lain.
Acap
kali semua keinginan harus terpenuhi. Semua rencana harus terjajaki dan semua
mimpi harus tercapai. Tapi tidak sendiri, harus ada penggerak-penggerak lainnya
yang menopang kemampuan kita. Itu yang tidak si pemuda miliki. Ia tak pernah
percaya dengan orang lain, namun ketika konsep dan rancangannya kurang berhasil
keselahan dilontarkan dengan seenak dengkulnya kepada orang-orang yang
menurutnya tak mau membantu. Apakah etis, orang lain membantu tapi tak tahu apa
yang akan ia bantu ? Apakah pantas orang lain yang membutuhkan untuk membantu
padahal jelas-jelas kita yang sangat membutuhkan untuk dibantu ?
Teka-teki
kemudian muncul. Bagaimana kita mengukur jiwa kepemimpinan dengan egois dan
kecerdasan ? Apakah egois dan kecerdasan memiliki kesetaraan yang sama ?
Apakah pemimpin harus cerdas tanpa memiliki
rasa egois atau memiliki rasa egois tapi tak perlu cerdas ? Pertanyaan itu
sangat sukar untuk dijelaskan, karena seorang pemimpin harus memiliki rasa
tanggung jawab untuk memanfaatkan kecerdasannya dan menguasai keegoisan
hatinya.
Akhirnya
si pemuda mendapatkan kendala. Dalam sebuah pertemuan si pemuda mengungkapkan
keluh kesahnya, namun sayang si pemuda mengatakan bahwa semua pengurus yang
tergabung tak ada yang memperdulikan gagasannya. Semuanya dianggap egois oleh
si pemuda. Bukan dukungan, penyemangat atau masukan yang didapat melainkan
cacian dan tekanan-tekanan kepada si
pemuda. Karena dalam perjalanannya si pemuda hanya bekerja sendirian, tanpa
meminta bantuan malah yang si pemuda inginkan orang-orang berbondong-bondong
datang untuk membantunya tanpa dipinta. Semua pengurus semakin tak terima
dengan lontaran-lontaran yang diucapkan si pemuda. Maka semua pengurus langsung
memberikan argumentasi yang melawan dan pemuda itupun tersudut, tapi entah
kenapa si pemuda tetap mempertahan argumentasinya bahwa para pengurus lain yang
egois bukan sebaliknya.
Egois
memang sangat dibutuhkan bagi seorang pemimpin. Seperti saat memutuskan sesuatu
secara cepat, tak pelu menunggu untuk rapat bersama atau meminta konsultasi.
Tapi jika egois dalam berorganisasi salah dalam penempatan maka para bawahan
yang dipimpin secara otomatis tak akan lagi percaya dengan semua keputusannya. Jika
salah mengambil sebuah keputusan dan menjalankan pekerjaan karena egoisme yang
tinggi maka banyak orang menganggap bahwa orang tersebut BEGO, tidak becus,
sombong, muka tembok, sok ngatur tapi tak mau diatur, salah tak mau disalahkan,
sok benar, sok mau didengar dan lain-lain sebagainya.
Bego
is me, secara tidak langsung menjadi satu kesatuan yang harus diterima dari
seseorang yang lebih mementingkan keinginan hatinya. Kepentingan keluarga
adalah segalanya dan meninggalkan kepentingan organisasi itu adalah bego is me,
mementingkan kepentingan pribadi daripada rapat kerja bersama rekan-rekan
organisasi itu adalah bego is me. Dan semua keegoisan yang mungkin sering kita
alami.
Kita
tak hidup sendirian. Hargai tanggung jawab pribadi dan bersama. Semua memiliki
urusan dan kepentingan yang berbeda, semua memiliki ide dan gagasan yang tak
pernah sama. Menghargai lebih baik daripada meminta-minta untuk dihargai.
EGOISME ADALAH SIFAT ALAMIAH
MANUSIA, NAMUN BEGO IS ME ADALAH PENGAKUAN DARI SIFAT EGOIS MANUSIA YANG
BERLEBIHAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar