Kamis, 22 Mei 2014

Bego Is Me



B“EGO”IS ME

Ada seorang pemuda yang yang aktif. Ia tergabung dalam suatu organisasi ruang lingkup mahasiswa. Pemuda ini sangat cakap dalam berbicara, memiliki gagasan dan ide yang luar biasa serta memiliki jiwa kepemimpinan yang lumayan. Hampir semua potensi ia miliki. Namun sayang sungguh disayang, dibalik potensi atau kelebihannya terselip kelemahan yang menghancurkan semua potensi yang ada. Pemuda ini memiliki rasa egois yang berlebihan. Karena memiliki semua potensi yang membanggakan ia selalu merasa bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, ia merasa bisa mengatur suatu acara tanpa bantuan orang-orang diluar kepentingannya. Padahal konsep manusia sebagai makhluk sosial tak lepas dari saling ketergantungan dengan orang lain.

Acap kali semua keinginan harus terpenuhi. Semua rencana harus terjajaki dan semua mimpi harus tercapai. Tapi tidak sendiri, harus ada penggerak-penggerak lainnya yang menopang kemampuan kita. Itu yang tidak si pemuda miliki. Ia tak pernah percaya dengan orang lain, namun ketika konsep dan rancangannya kurang berhasil keselahan dilontarkan dengan seenak dengkulnya kepada orang-orang yang menurutnya tak mau membantu. Apakah etis, orang lain membantu tapi tak tahu apa yang akan ia bantu ? Apakah pantas orang lain yang membutuhkan untuk membantu padahal jelas-jelas kita yang sangat membutuhkan untuk dibantu ?

Teka-teki kemudian muncul. Bagaimana kita mengukur jiwa kepemimpinan dengan egois dan kecerdasan ? Apakah egois dan kecerdasan memiliki kesetaraan yang sama ? Apakah  pemimpin harus cerdas tanpa memiliki rasa egois atau memiliki rasa egois tapi tak perlu cerdas ? Pertanyaan itu sangat sukar untuk dijelaskan, karena seorang pemimpin harus memiliki rasa tanggung jawab untuk memanfaatkan kecerdasannya dan menguasai keegoisan hatinya.

Akhirnya si pemuda mendapatkan kendala. Dalam sebuah pertemuan si pemuda mengungkapkan keluh kesahnya, namun sayang si pemuda mengatakan bahwa semua pengurus yang tergabung tak ada yang memperdulikan gagasannya. Semuanya dianggap egois oleh si pemuda. Bukan dukungan, penyemangat atau masukan yang didapat melainkan cacian dan tekanan-tekanan  kepada si pemuda. Karena dalam perjalanannya si pemuda hanya bekerja sendirian, tanpa meminta bantuan malah yang si pemuda inginkan orang-orang berbondong-bondong datang untuk membantunya tanpa dipinta. Semua pengurus semakin tak terima dengan lontaran-lontaran yang diucapkan si pemuda. Maka semua pengurus langsung memberikan argumentasi yang melawan dan pemuda itupun tersudut, tapi entah kenapa si pemuda tetap mempertahan argumentasinya bahwa para pengurus lain yang egois bukan sebaliknya.

Egois memang sangat dibutuhkan bagi seorang pemimpin. Seperti saat memutuskan sesuatu secara cepat, tak pelu menunggu untuk rapat bersama atau meminta konsultasi. Tapi jika egois dalam berorganisasi salah dalam penempatan maka para bawahan yang dipimpin secara otomatis tak akan lagi percaya dengan semua keputusannya. Jika salah mengambil sebuah keputusan dan menjalankan pekerjaan karena egoisme yang tinggi maka banyak orang menganggap bahwa orang tersebut BEGO, tidak becus, sombong, muka tembok, sok ngatur tapi tak mau diatur, salah tak mau disalahkan, sok benar, sok mau didengar dan lain-lain sebagainya.

Bego is me, secara tidak langsung menjadi satu kesatuan yang harus diterima dari seseorang yang lebih mementingkan keinginan hatinya. Kepentingan keluarga adalah segalanya dan meninggalkan kepentingan organisasi itu adalah bego is me, mementingkan kepentingan pribadi daripada rapat kerja bersama rekan-rekan organisasi itu adalah bego is me. Dan semua keegoisan yang mungkin sering kita alami.

Kita tak hidup sendirian. Hargai tanggung jawab pribadi dan bersama. Semua memiliki urusan dan kepentingan yang berbeda, semua memiliki ide dan gagasan yang tak pernah sama. Menghargai lebih baik daripada meminta-minta untuk dihargai.

EGOISME ADALAH SIFAT ALAMIAH MANUSIA, NAMUN BEGO IS ME ADALAH PENGAKUAN DARI SIFAT EGOIS MANUSIA YANG BERLEBIHAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar