RAKYAT,
JABATAN atau HARTA ?
Berbondong-bondong orang rebutan kursi
caleg. Bagi setiap orang duduk di kursi
anggota dewan adalah hal yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak ? Bisa
mewakili rakyat dalam penyampaian aspirasi, sampai bisa juga menikmati
kemewahan yang diberikan oleh pemerintah sebagai wakil dari rakyat. Kini pemilihan
calon anggota legislatif sudah semakin dekat, April 2014 adalah waktu dimana
masyarakat memilih perwakilannya untuk duduk menjadi anggota dewan. Ratusan
orang mencalonkan diri, dari orang biasa saja, orang-orang terpelajar dengan
segala lulusan sarjana sampai selebritis yang juga tidak mau kalah dalam
perebutan kursi. Ratusan baliho yang sudah akan menjadi calon sampah tak
berguna sudah banyak terpampang. Puluhan warna dan ribuan janji manis yang
mereka berikan kepada masyarakat terlihat jelas. Banyak kata yang terlontar
dari para calon anggota legislatif tersebut untuk bisa ikut berpartisipasi,
dari yang meramaikan, panggilan hati sampai dukungan besar dari para tokoh
daerah maupun tokoh partainya.
Pada hakikatnya nanti rakyat pun
harus memilih. Pilihan mereka beragam dari alasan karena orang terdekat,
mendukung dan menyukai visi-misinya, percaya akan janjinya, bahkan sampai
karena jumlah uang diberikan oleh calon anggota untuk memilihnya. Ironi memang
ditengah-tengah bobroknya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, masih
banyak oknum yang melakukan segala kecurangan hanya untuk mendapatkan kursi
nyaman saja. Banyaknya masyarakat yang masih bodoh bukannya dituntun kearah
yang benar, dari mereka yang tidak tahu menjadi tahu tapi malah dimanfaatkan.
Ada peryataan konyol terlontar dari
seorang siswa sekolah dasar yang notabennya belum mengerti betul tetang
kepemerintahan,“Mengapa wakil rakyat lebih sejahtera daripada rakyat ? Sedangkan
jabatan antara rakyat dengan wakil rakyat harusnya lebih tinggi rakyat ? Karena
ketua kelas dengan wakil ketua kelas saja jabatannya lebih tinggi ketua kelas
daripada wakil ketua kelas ?”. Secara tidak langsung siswa sekolah dasar itu
mengkritisi bahwasanya kenapa seorang wakil rakyat bisa mendapatkan gaji
tinggi, rumah yang nyaman dan terfasilitasi bahkan bisa plesiran keluar negeri
sedangkan rakyatnya masih banyak yang menderita. Banyaknya jumlah rakyat yang
pengangguran dan masih banyaknya rakyat yang tinggal digubuk dan kolong jembatan.
Pantas saja kebanyakan masyarakat
sudah tidak lagi mempercayai kinerja anggota DPR. Banyak sekali hal yang
seharusnya tidak dilakukan oleh anggota dewan tersebut, dari melakukan sejumlah
studi banding keluar negeri yang
menghabiskan milyaran rupiah. Padahal uang itu bisa lebih berguna untuk
kepentingan masyarakat yang membutuhkan. Lalu sering bolosnya anggota dewan
dengan berbagai alasan sampai melanggar sumpahnya untuk tidak melakukan
korupsi.
Ada lagi permasalahan baru yang hadir
dalam problema pemerintah saat ini. Kepentingan masyarakat tidak lagi
diperdulikan yang ada hanya kepentingan partai. Faktanya menjelang pemilihan
umum nanti partai politik sudah sibuk menggaet para kandidat anggota legislatif
sampai para anggota dewan yang sedang duduk dalam keanggotaan. Sehingga
tugasnya malah banyak yang terbengkalai karena sibuk akan urusan partainya. Membingungkan
memang, wakil rakyat yang seharusnya memikirkan dan mengurusi kesejahteraan
rakyat malah berpaling mengurusi dan mensejahterakan partainya.
Pada suatu waktu ada seorang tukang
becak pernah berkata dalam obrolannya dengan tukang becak lainnya yakni “Negara
kita tidak akan pernah sejahtera masyarakatnya, karena pemerintah bukan lagi
mengurusi kami wong cilik tapi sibuk merekrut dan menyejahterakan kepentingan
kelompok (dalam hal ini partai)”. Itulah ungkapan rasa kecewa yang tak akan
pernah sampai kekuping pemerintah apa lagi mereka sang pemangku jabatan yang
berkuasa.
Sejumlah pertanyaan pun muncul
untuk para calon anggota legislatif yang akan bertempur memperebutkan kursi
kepemerintahan. Sebenernya apa yang mereka kejar ? Jabatan tinggi yang banyak
orang idamkan ? Fasilitas mewah yang diberikan pemerintah ? atau kesejahteraan
rakyat Indonesia yang masih sangat jauh dari kata layak ? Sulit menebak mana
yang benar-benar mewakili rakyat.
Jika masyarakatnya sudah tak lagi
percaya bagaimana dengan pemimpinnya ? Kini tugas besar sudah tertumpuk
dipundak generasi penerus bangsa yang benar-benar harus merubah rasa kecewa
masyarakat dengan rasa kebanggaan masyarakat akan kinerja yang sudah dilakukan
oleh pemerintah. Memang sangat sulit untuk menumbuhkan rasa kepercayaan
masyarakat tidak semudah membalikan telapak tangan.
JANGAN HANYA MENAMPUNG ASPIRASI,
TAPI TUANGKAN DAN BERIKAN KAMI INSPIRASI KALIAN ADALAH WAKIL KAMI....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar