Kamis, 22 Mei 2014

RAKYAT, JABATAN atau HARTA ?



                                                RAKYAT, JABATAN atau HARTA ?
            Berbondong-bondong orang rebutan kursi caleg. Bagi setiap orang duduk di kursi anggota dewan adalah hal yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak ? Bisa mewakili rakyat dalam penyampaian aspirasi, sampai bisa juga menikmati kemewahan yang diberikan oleh pemerintah sebagai wakil dari rakyat. Kini pemilihan calon anggota legislatif sudah semakin dekat, April 2014 adalah waktu dimana masyarakat memilih perwakilannya untuk duduk menjadi anggota dewan. Ratusan orang mencalonkan diri, dari orang biasa saja, orang-orang terpelajar dengan segala lulusan sarjana sampai selebritis yang juga tidak mau kalah dalam perebutan kursi. Ratusan baliho yang sudah akan menjadi calon sampah tak berguna sudah banyak terpampang. Puluhan warna dan ribuan janji manis yang mereka berikan kepada masyarakat terlihat jelas. Banyak kata yang terlontar dari para calon anggota legislatif tersebut untuk bisa ikut berpartisipasi, dari yang meramaikan, panggilan hati sampai dukungan besar dari para tokoh daerah maupun tokoh partainya.
            Pada hakikatnya nanti rakyat pun harus memilih. Pilihan mereka beragam dari alasan karena orang terdekat, mendukung dan menyukai visi-misinya, percaya akan janjinya, bahkan sampai karena jumlah uang diberikan oleh calon anggota untuk memilihnya. Ironi memang ditengah-tengah bobroknya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, masih banyak oknum yang melakukan segala kecurangan hanya untuk mendapatkan kursi nyaman saja. Banyaknya masyarakat yang masih bodoh bukannya dituntun kearah yang benar, dari mereka yang tidak tahu menjadi tahu tapi malah dimanfaatkan.
            Ada peryataan konyol terlontar dari seorang siswa sekolah dasar yang notabennya belum mengerti betul tetang kepemerintahan,“Mengapa wakil rakyat lebih sejahtera daripada rakyat ? Sedangkan jabatan antara rakyat dengan wakil rakyat harusnya lebih tinggi rakyat ? Karena ketua kelas dengan wakil ketua kelas saja jabatannya lebih tinggi ketua kelas daripada wakil ketua kelas ?”. Secara tidak langsung siswa sekolah dasar itu mengkritisi bahwasanya kenapa seorang wakil rakyat bisa mendapatkan gaji tinggi, rumah yang nyaman dan terfasilitasi bahkan bisa plesiran keluar negeri sedangkan rakyatnya masih banyak yang menderita. Banyaknya jumlah rakyat yang pengangguran dan masih banyaknya rakyat yang tinggal digubuk dan kolong jembatan.
            Pantas saja kebanyakan masyarakat sudah tidak lagi mempercayai kinerja anggota DPR. Banyak sekali hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh anggota dewan tersebut, dari melakukan sejumlah studi banding keluar negeri  yang menghabiskan milyaran rupiah. Padahal uang itu bisa lebih berguna untuk kepentingan masyarakat yang membutuhkan. Lalu sering bolosnya anggota dewan dengan berbagai alasan sampai melanggar sumpahnya untuk tidak melakukan korupsi.
            Ada lagi permasalahan baru yang hadir dalam problema pemerintah saat ini. Kepentingan masyarakat tidak lagi diperdulikan yang ada hanya kepentingan partai. Faktanya menjelang pemilihan umum nanti partai politik sudah sibuk menggaet para kandidat anggota legislatif sampai para anggota dewan yang sedang duduk dalam keanggotaan. Sehingga tugasnya malah banyak yang terbengkalai karena sibuk akan urusan partainya. Membingungkan memang, wakil rakyat yang seharusnya memikirkan dan mengurusi kesejahteraan rakyat malah berpaling mengurusi dan mensejahterakan partainya.
            Pada suatu waktu ada seorang tukang becak pernah berkata dalam obrolannya dengan tukang becak lainnya yakni “Negara kita tidak akan pernah sejahtera masyarakatnya, karena pemerintah bukan lagi mengurusi kami wong cilik tapi sibuk merekrut dan menyejahterakan kepentingan kelompok (dalam hal ini partai)”. Itulah ungkapan rasa kecewa yang tak akan pernah sampai kekuping pemerintah apa lagi mereka sang pemangku jabatan yang berkuasa.
Sejumlah pertanyaan pun muncul untuk para calon anggota legislatif yang akan bertempur memperebutkan kursi kepemerintahan. Sebenernya apa yang mereka kejar ? Jabatan tinggi yang banyak orang idamkan ? Fasilitas mewah yang diberikan pemerintah ? atau kesejahteraan rakyat Indonesia yang masih sangat jauh dari kata layak ? Sulit menebak mana yang benar-benar mewakili rakyat.
            Jika masyarakatnya sudah tak lagi percaya bagaimana dengan pemimpinnya ? Kini tugas besar sudah tertumpuk dipundak generasi penerus bangsa yang benar-benar harus merubah rasa kecewa masyarakat dengan rasa kebanggaan masyarakat akan kinerja yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Memang sangat sulit untuk menumbuhkan rasa kepercayaan masyarakat tidak semudah membalikan telapak tangan.

JANGAN HANYA MENAMPUNG ASPIRASI, TAPI TUANGKAN DAN BERIKAN KAMI INSPIRASI KALIAN ADALAH WAKIL KAMI....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar