KECEWA
LAGI
Sore
itu seperti menyambut. Angin yang tertiup, suasana yang asri dan perbincangan
yang hangat menyelimuti sore kami di tugu kebanggaan Universitas Negeri
Jakarta. Senja itu kami pengurus organisasi mahasiswa merencanakan sebuah rapat
evaluasi. Rapat ini bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan yang sudah dijalani
sebelumnya. Acara ini adalah acara terbesar yang dijalani oleh organisasi kami.
Saat
matahari mulai memulangkan diri tergantikan bulan. Kami memulai rapat dengan
khidmat. Rapat kami dibuka dengan sambutan dan informasi dari organisasi yang
memiliki level satu tingkat diatas kami. Bisingnya suara sound tak kami
hiraukan, meski rapat evaluasi kami diadakan tepat bersebelahan dengan acara
yang diadakan organisasi mahasiswa lainnya.
Sekitar
15 menit informasi yang disampaikan pun usai. Akhirya mulai lah ke acara yang
dinanti yakni rapat evaluasi terkait kegiatan yang sudah kami lakukan dua hari
sebelumnya. Kami pun memulai laporan-laporan dari tiap-tiap koordinasi. Dari
HPD atau seksi dokumentasi, kemudian konsumsi, perlengkapan, hiburan, dan
terakhir tempat ku bekerja pada kegiatan itu yakni seksi acara.
Aku
adalah bagian dari seksi acara, kebetulan untuk seksi acara dipimpin oleh salah
satu senior ku. Semua koordinator dan staff perseksi sudah menyampaikan
unek-unek dan keluh kesah selama acara itu berlangsung. Akhirnya ketika seksi
acara menyampaikan laporannya ku memberanikan untuk berkeluh kesah. Keluh kesah
yang ku sampaikan terkait dengan job desc,
karena selama kegiatan berlangsung aku gak tahu harus bekerja seperti apa ? Aku
gak tahu harus melakukan apa ? Karena dari semua staff hanya aku yang enggak
jelas kerjaannya. Akhirnya setelah semua keluh kesah ku tersampaikan mulai
banyak pendapat, semuanya hampir kontra
dengan apa yang aku sampaikan. Dan aku pun memilih untuk tidak banyak bicara
dan mengintropeksi diri untuk jauh lebih baik.
Namun
ketika semua seksi sudah mengungkapkan isi hatinya. Giliran bagian sentral
yakni keuangan berbicara. Yang berbicara adalah sahabat ku, yang sangat dekat
amat dekat karena hampir setiap hari kuliah aku selalu bersamanya.
Setelah
melaporkan semua pemasukan dan pengeluaran ia juga memiliki kesempatan untuk
berbicara mengeluarkan unek-unek dan isi hatinya. Tapi yang membuat ku terkejut
adalah sasaran unek-uneknya adalah aku, ia mengomentari apa yang aku katakan
tadi. Sambil menangis ia mengucapkan isi hati dan kekesalannya, karena enggak
kuat jadi disampaikan oleh ketua pelaksana.
Seketika
aku diam, apa yang diucapkannya membuatku termangu. Kenapa harus dia ? Apa
salah ku padanya ? Mungkin maksudnya baik untuk mengoreksi ucapanku dan membuat
ku menjadi pribadi yang lebih baik, tapi apakah harus dengan cara seperti itu ?
Aku bingung benar-benar bingung. Sebaris kalimat yang tersirat darinya membuat
ku kecewa. Ini sudah kali ketiga aku harus mengalami pengkhianatan. Bukan
orang lain, tapi sahabat ku sendiri.
Apa
ini cara Tuhan untuk membuatku sadar dan mengerti kalau aku adalah pria
terbodoh di dunia ? Apa ini cara Tuhan untuk mengajarkan ku betapa tololnya
diri karena kesombongan ego ? Apa ini cara Tuhan untuk membuka mata ku, dan
memberi tahu bahwa semua manusia adalah musuh tapi sahabat terbaik hanya
diri-Nya ? Entah apa yang Tuhan maksud, entah apa yang sahabat ku maksud. Yang
jelas aku kecewa LAGI...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar