Kamis, 22 Mei 2014

Kecewa Lagi



KECEWA LAGI
Sore itu seperti menyambut. Angin yang tertiup, suasana yang asri dan perbincangan yang hangat menyelimuti sore kami di tugu kebanggaan Universitas Negeri Jakarta. Senja itu kami pengurus organisasi mahasiswa merencanakan sebuah rapat evaluasi. Rapat ini bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan yang sudah dijalani sebelumnya. Acara ini adalah acara terbesar yang dijalani oleh organisasi kami.

Saat matahari mulai memulangkan diri tergantikan bulan. Kami memulai rapat dengan khidmat. Rapat kami dibuka dengan sambutan dan informasi dari organisasi yang memiliki level satu tingkat diatas kami. Bisingnya suara sound tak kami hiraukan, meski rapat evaluasi kami diadakan tepat bersebelahan dengan acara yang diadakan organisasi mahasiswa lainnya.

Sekitar 15 menit informasi yang disampaikan pun usai. Akhirya mulai lah ke acara yang dinanti yakni rapat evaluasi terkait kegiatan yang sudah kami lakukan dua hari sebelumnya. Kami pun memulai laporan-laporan dari tiap-tiap koordinasi. Dari HPD atau seksi dokumentasi, kemudian konsumsi, perlengkapan, hiburan, dan terakhir tempat ku bekerja pada kegiatan itu yakni seksi acara.

Aku adalah bagian dari seksi acara, kebetulan untuk seksi acara dipimpin oleh salah satu senior ku. Semua koordinator dan staff perseksi sudah menyampaikan unek-unek dan keluh kesah selama acara itu berlangsung. Akhirnya ketika seksi acara menyampaikan laporannya ku memberanikan untuk berkeluh kesah. Keluh kesah yang ku sampaikan terkait dengan job desc, karena selama kegiatan berlangsung aku gak tahu harus bekerja seperti apa ? Aku gak tahu harus melakukan apa ? Karena dari semua staff hanya aku yang enggak jelas kerjaannya. Akhirnya setelah semua keluh kesah ku tersampaikan mulai banyak pendapat, semuanya  hampir kontra dengan apa yang aku sampaikan. Dan aku pun memilih untuk tidak banyak bicara dan mengintropeksi diri untuk jauh lebih baik.

Namun ketika semua seksi sudah mengungkapkan isi hatinya. Giliran bagian sentral yakni keuangan berbicara. Yang berbicara adalah sahabat ku, yang sangat dekat amat dekat karena hampir setiap hari kuliah aku selalu bersamanya.

Setelah melaporkan semua pemasukan dan pengeluaran ia juga memiliki kesempatan untuk berbicara mengeluarkan unek-unek dan isi hatinya. Tapi yang membuat ku terkejut adalah sasaran unek-uneknya adalah aku, ia mengomentari apa yang aku katakan tadi. Sambil menangis ia mengucapkan isi hati dan kekesalannya, karena enggak kuat jadi disampaikan oleh ketua pelaksana.

Seketika aku diam, apa yang diucapkannya membuatku termangu. Kenapa harus dia ? Apa salah ku padanya ? Mungkin maksudnya baik untuk mengoreksi ucapanku dan membuat ku menjadi pribadi yang lebih baik, tapi apakah harus dengan cara seperti itu ? Aku bingung benar-benar bingung. Sebaris kalimat yang tersirat darinya membuat ku kecewa. Ini sudah kali ketiga aku harus mengalami pengkhianatan. Bukan orang lain, tapi sahabat ku sendiri.

Apa ini cara Tuhan untuk membuatku sadar dan mengerti kalau aku adalah pria terbodoh di dunia ? Apa ini cara Tuhan untuk mengajarkan ku betapa tololnya diri karena kesombongan ego ? Apa ini cara Tuhan untuk membuka mata ku, dan memberi tahu bahwa semua manusia adalah musuh tapi sahabat terbaik hanya diri-Nya ? Entah apa yang Tuhan maksud, entah apa yang sahabat ku maksud. Yang jelas aku kecewa LAGI...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar