Bapak Papua yang Jenaka
Malam datang menutupi matahari yang turun di ufuk barat. Dingin
khas Jakarta mulai menghampiri sejuknya malam ibu kota. Setelah mengitari
Jakarta bersama teman-teman, saatnya beristirahat merefleksikan otot yang
tegang karena perjalanan yang cukup melelahkan. Namun entah kenapa mata ini tak
kunjung redup. Ku putuskan untuk duduk bersantai di depan teras kontrakanku
yang sederhana. Ditiup angin yang sejuk dan ditemani laptop yang menyala ku
mulai bercengkrama sambil menemani senior ku menyelesaikan skripsinya.
Malam kian larut, tapi tetangga depan kontrakan ku tak kunjung
tidur. Ia malah menyalakan televisi dengan menayangkan berita-berita hangat
hari ini. Pertamanya sih hanya berita bola, lalu beranjak ke siaran ulang acara
dangdut baru deh ke inti acara yang berkualitas yakni berita. Awal tayangan
yang diberitakan adalah perseteruan fans Persija Jakarta dengan Persib Bandung
yang onar di tol Cikampek. Sudah biasa menurutku jika Persib Bandung dan
Persija Jakarta bertemu pasti akan ada masalah yang muncul. Berita selanjutnya
adalah berita yang cukup basi namun sedang kembali hangat diperbincangkan,
yakni kasus Ball Out Bank Century. Kesaksian pada sidang pertama yang
disampaikan Sri Mulyani terjadi perbedaan kesaksian yang disampaikan mantan
wakil presiden Jusuf Kalla. Ternyata berita tersebut menarik perhatian ku.
Dengan menyimak baik ku menonton tiba-tiba ada seorang bapak sudah paruh baya
menghampiri ku.
Bapak ini tak pernah ku kenal sebelumnya. Berperawakan besar,
kulit yang hitam dan rambutnya yang cepak keriting membuat ku yakin ia bukanlah
asli orang Jakarta. Benar saja, ia adalah rantauan asli dari Pulau Papua yang
sudah cukup lama tinggal dikejamnya ibu kota. Seketika bapak ini berkata “rasanya ingin ku tembak orang-orang yang
bermain-main dengan uang negara toh” katanya dengan logak khas Papua.
Sambil tertawa ku bertanya padanya “haha
memangnya kenapa pak ?”. “Orang-orang
seperti itu harusnya mati toh, tak pantas hidup. Apa lagi Anas yang memiliki
janji siap digantung di Monas, jika terbukti dia harus digantung ! membuat malu
orang Jawa saja” Tegasnya
Ku rasa perbincangan kami mulai serius. Lalu kak Ilham bergabung
dengan menyimak. Melihat dua orang pemuda antusias dengan perkataannya, iya
melanjutkan “buat saja angket untuk
seluruh orang di Indonesia, mereka pasti ingin membuat negara masing-masing,
seperti di Papua kah, saya orang diajak masuk Gerakan Papua Merdeka, lalu saya
tanya ke mereka. Kalian punya apa kah ? Jika hanya pistol kalian cuma gertak
sambal, orang-orang Jawa tak takut itu. Jika kalian punya nuklir 2 saja, saya
masuk haha” bapak ini sambil tertawa terbahak.
Rupanya dari canda itu terselip kekecawaannya atas kinerja
pemerintah. Sejak jaman kolonial dulu, Jawa adalah pusat pemerintah dan pusat
perkembangan serta pembangunan kolonial Belanda. Terlebih pada masa
pemerintahan Soeharto yang dikenal sebagai “Bapak Pembangunan”, semua
pembangunan terpusat di Pulau Jawa. Tak hanya pusat pemerintah, pendidikan,
ekonomi, budaya, dan sosial terpusat pembangunannya di Pulau Jawa.
“Pemuda tak usah pikirkan semua
kasus Korupsi yang membeli pemeritah,
saya selalu menyarakan pemuda di Papua untuk belajar hingga pintar, lalu jika
pintar korupsilah haha” kembali tawa terpecah dalam
ramainya malam kota Jakarta. Lalu ia pergi meninggalkan kami tanpa sebuah nama.
Bapak Papua yang Jenaka, itu lah sebutan ku untuknya. Dengan kesederhanaannya
memberitahu ku betapa mereka yang disana membutuhkan perhatian dari kita yang
merasakan pembangunan yang luar biasa. Mereka membutuhkan apa yang sudah kita
nikmati di Pulau penuh dengan pesatnya pembangunan. Entah apa yang ada dalam
pikiran mereka pemangku jabatan di Istana Merdeka. Bayangkan jika seluruh
elemen masyarakat yang kecewa bersatu dan melawan ? Bukan hal yang tidak
mungkin jika apa yang terjadi di Afganistan, Mesir, Irak, dan negara Asia
lainnya yang berseteru antar sesama warga negara terjadi di Indonesia.
Bapak Papua yang Jenaka ini mengajarkan ku banyak hal. Bahwa
negara ini tak berdiri sendiri tanpa orang-orang yang kini terlupakan, tak akan
mampu menjadi negara yang kuat jika tak ada orang-orang yang memiliki
solidaritas dalam suku dan kebudayaan yang banyak dan tak akan bisa menjadi
negara yang besar tanpa adanya
masyarakat yang selalu sabar menghadapi semua masalah negara.
“ Bersama kita
bisa, jangan sampai karena bersama kita malah binasa. Bersama karena keluarga
bukan untuk kepentingan yang tak sama” – Firman Surahman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar