Kamis, 08 Mei 2014

Bapak Papua yang Jenaka



 Bapak Papua yang Jenaka

Malam datang menutupi matahari yang turun di ufuk barat. Dingin khas Jakarta mulai menghampiri sejuknya malam ibu kota. Setelah mengitari Jakarta bersama teman-teman, saatnya beristirahat merefleksikan otot yang tegang karena perjalanan yang cukup melelahkan. Namun entah kenapa mata ini tak kunjung redup. Ku putuskan untuk duduk bersantai di depan teras kontrakanku yang sederhana. Ditiup angin yang sejuk dan ditemani laptop yang menyala ku mulai bercengkrama sambil menemani senior ku menyelesaikan skripsinya.

Malam kian larut, tapi tetangga depan kontrakan ku tak kunjung tidur. Ia malah menyalakan televisi dengan menayangkan berita-berita hangat hari ini. Pertamanya sih hanya berita bola, lalu beranjak ke siaran ulang acara dangdut baru deh ke inti acara yang berkualitas yakni berita. Awal tayangan yang diberitakan adalah perseteruan fans Persija Jakarta dengan Persib Bandung yang onar di tol Cikampek. Sudah biasa menurutku jika Persib Bandung dan Persija Jakarta bertemu pasti akan ada masalah yang muncul. Berita selanjutnya adalah berita yang cukup basi namun sedang kembali hangat diperbincangkan, yakni kasus Ball Out Bank Century. Kesaksian pada sidang pertama yang disampaikan Sri Mulyani terjadi perbedaan kesaksian yang disampaikan mantan wakil presiden Jusuf Kalla. Ternyata berita tersebut menarik perhatian ku. Dengan menyimak baik ku menonton tiba-tiba ada seorang bapak sudah paruh baya menghampiri ku.

Bapak ini tak pernah ku kenal sebelumnya. Berperawakan besar, kulit yang hitam dan rambutnya yang cepak keriting membuat ku yakin ia bukanlah asli orang Jakarta. Benar saja, ia adalah rantauan asli dari Pulau Papua yang sudah cukup lama tinggal dikejamnya ibu kota. Seketika bapak ini berkata “rasanya ingin ku tembak orang-orang yang bermain-main dengan uang negara toh” katanya dengan logak khas Papua. Sambil tertawa ku bertanya padanya “haha memangnya kenapa pak ?”. “Orang-orang seperti itu harusnya mati toh, tak pantas hidup. Apa lagi Anas yang memiliki janji siap digantung di Monas, jika terbukti dia harus digantung ! membuat malu orang Jawa saja” Tegasnya

Ku rasa perbincangan kami mulai serius. Lalu kak Ilham bergabung dengan menyimak. Melihat dua orang pemuda antusias dengan perkataannya, iya melanjutkan “buat saja angket untuk seluruh orang di Indonesia, mereka pasti ingin membuat negara masing-masing, seperti di Papua kah, saya orang diajak masuk Gerakan Papua Merdeka, lalu saya tanya ke mereka. Kalian punya apa kah ? Jika hanya pistol kalian cuma gertak sambal, orang-orang Jawa tak takut itu. Jika kalian punya nuklir 2 saja, saya masuk haha” bapak ini sambil tertawa terbahak.

Rupanya dari canda itu terselip kekecawaannya atas kinerja pemerintah. Sejak jaman kolonial dulu, Jawa adalah pusat pemerintah dan pusat perkembangan serta pembangunan kolonial Belanda. Terlebih pada masa pemerintahan Soeharto yang dikenal sebagai “Bapak Pembangunan”, semua pembangunan terpusat di Pulau Jawa. Tak hanya pusat pemerintah, pendidikan, ekonomi, budaya, dan sosial terpusat pembangunannya di Pulau Jawa.

“Pemuda tak usah pikirkan semua kasus Korupsi  yang membeli pemeritah, saya selalu menyarakan pemuda di Papua untuk belajar hingga pintar, lalu jika pintar korupsilah haha” kembali tawa terpecah dalam ramainya malam kota Jakarta. Lalu ia pergi meninggalkan kami tanpa sebuah nama.

Bapak Papua yang Jenaka, itu lah sebutan ku untuknya. Dengan kesederhanaannya memberitahu ku betapa mereka yang disana membutuhkan perhatian dari kita yang merasakan pembangunan yang luar biasa. Mereka membutuhkan apa yang sudah kita nikmati di Pulau penuh dengan pesatnya pembangunan. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka pemangku jabatan di Istana Merdeka. Bayangkan jika seluruh elemen masyarakat yang kecewa bersatu dan melawan ? Bukan hal yang tidak mungkin jika apa yang terjadi di Afganistan, Mesir, Irak, dan negara Asia lainnya yang berseteru antar sesama warga negara terjadi di Indonesia.

Bapak Papua yang Jenaka ini mengajarkan ku banyak hal. Bahwa negara ini tak berdiri sendiri tanpa orang-orang yang kini terlupakan, tak akan mampu menjadi negara yang kuat jika tak ada orang-orang yang memiliki solidaritas dalam suku dan kebudayaan yang banyak dan tak akan bisa menjadi negara  yang besar tanpa adanya masyarakat yang selalu sabar menghadapi semua masalah negara.

“ Bersama kita bisa, jangan sampai karena bersama kita malah binasa. Bersama karena keluarga bukan untuk kepentingan yang tak sama” – Firman Surahman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar